Sabtu, 17 November 2012



KURINDU KAU MERINDUKU
Oleh: DHE2N MAULANA

“Bu....! saya hanya minta ijin  untuk bekal dalam perjalanan”
“Tapi ibu khawatir akan terjadi apa-apa dengan kamu di sana. Ibu juga tidak ingin kamu meninggalkan bapakmu sendiri di sini. Kamu lihat sendiri bagaimana kondisi keluarga kita sekarang, sebaiknya kamu menyusul ayahmu kedalam hutan. Dari semalam bapakmu belum pulang. Dia pergi untuk mencari makanan untuk kita hari ini”. Ucap seorang ibu yang ada di samping seorang pemuda. Duduk  lesu, tersungkur di depannya. Ibu itu tampak lusuh dengan pakaian yang  yang biasa dipakai oleh para ibu hamil, walaupun sang ibu tidak sedang hamil. Terlihat tambalan disetiap sudut pakaiannya. Dia sedang menusukkan jarum ke  kain, menambal bahu baju yang berlobang di pangkuannya.
            Merasa tidak mendapatkan apa yang sangat diinginkannya, Pemuda itu bangun dari duduknya, tanpa perrmisi langsung berbalik menghindar dari pandangan lesu sang ibu. Ibu merasa sangat hambar dan pahit, tidak tega melihat anaknya patah semangat. Di sampingnya terlentang tiga orang anak manusia di atas balai-balai bambu yang hanya beralaskan tikar dari anyaman daun pandan yang karya sendiri. Sang suaminya mengambilnya dari pinggir pantai yang berjarak dua kilometer dari rumahnya. Menahan  lapar dalam lelapnya. Ketiganya semua perempuan. Merekapun mengenakan pakaian yang penuh tambalan. Meskipun begitu mereka tidak pernah mengeluhkan kelaparan yang sedang mereka jalani sekarang kelapran karena mereka sedang beribadah, menunaikan kewajiban dibulan yang hanya muncul sekali dalam setahun. Ramadhan, ya puasa di bulan Ramadhan.
“Aku sudah bosan menjalani hidup seperti ini.  Hidup dengan pakaian yang ditambal. Harga diriku terasa telah terjual dan tergadaikan oleh kemiskinan. Masih banyak yang bisa saya lakukan untuk mengembangkan diri dan hidup ini”. Batinnya terus meronta dan menjerit. Sudah lama amarah itu mendekam tapi  masih mampu dia tahan. Tapi menahan amarah yang sudah memnbuncah akan menjadi bara menyala dalam dirinya. Kemarahan  yang hanya pantas untuk ditumpahkan dan  dilampiaskannya di puncak gunung tertinggi. Berteriak sekeras-kerasnya sampai seluruh penghuni langit merasakan getaran kemarahan dan kepedihan yang sedang dia rasakan.  
Asslamualaikum!” sebuah kata seruan terdengar dari luar pagar reot yang sebagian telah rubuh akibat tidak pernah terurus.
Waalaikumussalam!”
Seorang laki-laki yang sudah sangat lusuh menampakan wajahnya dari sebuah pintu tanpa tirai. Dengan penuh rasa suka cita Halima menyambut suaminya yanga baru saja pulang berjuang untuk mendapatkan harga diri sebagai seorang suami.  Tangguang jawab  besar untuk mengayomi hidup keluarganya tterpatri dalam dada.
Walau hidup dengan pakaian yang penuh dengan kain yang ditambal di setiap sudutnya tapi terasa sangat indah daripada  harus mengemis dan menadahkan tangan pada orang lain.  Suaminya membawakan makanan yang   dikumulkan di tengah hutan rimba. Dua hari dia bertarung dengan rimba belantara. Tapi tidak pernah menyerah sampai menemukan makanan untuk anak dan istrinya.
            Seikat dedaunan yang bisa dimakan dan direbus sebagai persiapan makanan  selama satu minggu dan tiga bongkah tepung yang telah membatu yang dibungkus dengan anyaman  daun enau.beberapa biji buah lontar dan buah kelapa hutan. cukup menjadi bekal untuk hidup. Hasil dari rotan yang telah dikeringkan dan aakan dijual di pasar cukup untuk membeli beras yang  untuk persediaan selama dua hari. Jarak pasar yang harus ditempuh selama delapan belas jam dan hanya digelar selama semiggu sekali menambah sulit gerak sang suami menjalani kehidupannya bersama anak istri.
Hari itu rabu, pagi mencium mentari yang melepaskan kerudung malamnya. Randa yang baru saja melepaskan dua ikat buah rotan yang dipikul dengan batang kayu mahoni tergeletak dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya dan membiarkannya untuk terus mengalir dan mengalir sejak  dari delapan belas jam lalu. Randa sedang asyik membatu orang tua mengelar rotan dan daun-daun yang banyak untuk diperjual belikan, beberapa buah kelapa dan buah rotan. Kadang mereka hanya menukarkan barang dagangannya dengan barang yang lain. Jarang terlihat uang dalam proses perdagangan itu. Uang hanya terlihat apabila ada saudagar dari pulau lain  yang  kebetulan singgah untuk beristirahat sejenak melepas lelah.  Tanpa memperhatikan putranya yang bersimbah keringat  sang ayah langsung menggelar dagangannya.  Setengah berteriak dia menyebutkan nama-nama barang yang tergeletak dihadapannya.
“Rotan............, kelapa.........., buah.............., buah rotan. Ayo bapak........., ayo ibu..........., pilih  saja, masih segar-segar!” teriaknya.
Randa hanya melihat-lihat bagaimana ayahnya beteriak. Dan tanpa pikir panjang dia maju ke depan dan mencoba mengambil alih kegiatan ayahnya. Pun dia lebih sengit berteriak dan mencoba lebih bersemangat.
            Perjalanan hari tidak ada yang pernah tahu nasib apa yang akan menimpa. Pun hari itu Randa yang sejak umur tujuh tahun mengikuti ayahnya untuk menjajakan hasil hutan yang dikumpulkan sebagai sumber kehidupan.  Kehidupan di pekan itu sangat ramai dan penuh dengan hasil hutan. Hari itu  sebuah perahu yang terlihat singgah didekat pantai. Beberapa orang perahu besar itu terlihat turun dan menyambangi pantai dengan sampan bawaan sendiri. Terlihat mereka mencari-cari-cari buah dan sayuran untuk bekal perjalanan sebagai menyambung hidup di tengah badai dan gelombang samudera yang akan menghadang perjalanan mereka kelak. Randa yang ikut melihat kedatangan rombongan itu mencoba mempertajam pandangannya sampai rombongan itu tepat dihadapannya. Randa termanggu bergeming.. ayahnya heran melihat tingkah putranya dan langsung mendahului Randa untuk menawari setiap dagangannya.
“Sihlakan tuan, pilih saja apa saja yang tuan  inginkan, cuma beberapa sen kok tuan!” ujar sang ayah lincah. Hanya beberapa orang yang ada pada bagian belakang yang mencoba meraba hasil dagangan ayah dan anak itu. Perhatian mereka tertuju pada buah rotan yang sudah terlihat ranum. Beberapa biji buah itu mereka tukar dengan harga seratus sen, mereka melanjutkan perjalanan dan berlalu dari hadapan Randa yang masih melongo mencoba meyakinkan diri untuk bisa melawan hasratnya yang terpendam.
            Dengan rasa penasaran yang tinggi, Randa mengangkat kakinya melangkah dan berlari mengejar rombongan itu untuk mencoba menawarkan diri agar bisa ikut berlayar membelah gelombang mengarungi samudra. Ternyata sangat susah menaykinkan rombongan saudagar itu agar bisa ikut di perahu mereka, menjadi bagian dari mereka, bersatu dalam suka dan duka. Tapi itu tidak sia-sia dia berhasil meyakinkan saudagar itu kalau dia mampu melakukan apa saja yang diperintahkan oleh para pengarunng lautan itu. Dengan penuh semangat Randa menyampaikan pada ayahnya bahwa dia akan ikut dengan saudagar yang datang tadi siang dan mereka akan segera berangkat malam setelah bulan menampakan diri di balik bukit. Sang ayah hanya diam tanpa ekspresi yang menukung cita-cita putra pertamanya. Dia hanya mengemasi buah dan dedaunan yang tidak terjual.
            Sang Ayah kembali tanpa putranya. Tanpa membuang waktu ia menceritakan setiap detik perjalanannya hari ini. Hari dimana mereka harus terpisah dari putra pertamanya dan adik yang harus terpisah dari saudara laki-laki satu-satunya.
“Bu...., Randa tidak mau  pulang, dia ingin mengubah hidupnya yang hanya menggantungkan nasib pada hasil hutan!” ujar sang ayah pelan sambil memandang lekat istrinya.
“Sudah puluhan kali kali dia minta untuk pergi tapi ibu tidak pernah ijinkan, biarlah dia pergi menapaki jalan hidupnya sendiri,  sekarang kita hanya bisa mendoakannya semoga dia bisa mendapatkan berkah dari Allah SWT!” ujar sang ayah melanjutkan. Tak pelak, mengetahui puteranya tidak kembali dengan sang suami ibu itupun menagis tersedu. Di sela isaknnya dia mencoba tabah dan menyisipkan doa.
“Ya Allah, kirimkanlah rahmatMu untuk putraku dan ssuamiku semoga dalam hasrat dan cita-citanya yang tinggi tidak ada maksiat dan musibah. Hamba sangat berharatp dari setiap langkah cita-citanya berikanlah berkah dan anugerah yang indak serta sampaikanlah rahmatMu untuk kami semua!” isak an ratpan dalm doanya membuat tidak bisa melanjutkan doannya setelah itu hanya tangisan dan dan isakan yang menyeruak di balik anyaman bambu pembatas antara halaman dengan bagian dalam rumah. Sang ayah hanya menunggu kemunculan sang rembulan sebagai petunjuk keberangkatan  putrannya. Air matanya meleleh walau rembulan belum menampakan batang cahayannya.
Samudra mengamuk, laut bagai api yang sedang melahap setiap bagian yang bukit ilalang. Ombak bagai segerombolan mulut buaya yang secara susul-menyusul menghantam kapal yang digerakan oleh angin hujan deras berhamburan menggenangi setiap pojok perahu. Semua yang ada dalam perahu sigap mengawasi setiap pos yang mereka jaga. Mengencangkan tali layar dan dan mengendalikan kemudi. Hanya Randa yang terlihat sangat memilukan. Dia oleng, oleng seperti perahu yang sedang dia tumpangi. Muntahannya telah bercampur dengan asinnya air laut dan derasnya badai. Ini adalah pengalaman pertamanya, menghadapi hadangan air ang tidak pernah dia lihat dan tidak pernah orang ceritakan sebelumnya. Senyum menebar di setiap  bibir dari wajah yang memperhatikannya. Mereka hanya bergumam. “Tabalah, tabalah, inilah yang paling tidak diinginkan oleh orang-orang yang mengarungi samudra. Tapi ini akan menjadi pelajaran pertama bagimu. Ayo  kuatkan hatimu!” seorang pria paruh baya yang menyatakan dirinya pimpinan diperahu itu membatin.
* * *
        “Ada berita bagus, ayo-ayo....., berita pemberontakan masyarakat pulau di ujung timur bangsa Indonesia,  dengan tangan kanan yang gesit dia mengibarkan lembaran surat kabar.  Setumpuk  surat kabar masih menggantung rapi di tangan kirinya. Dia terus menjajakan barang dagangannya, kala Traffick light menunjukan warna merah, di beraksi. Bersama dengan teman-teman seperjuangannya. Wajahnya terbungkus slayer yang warnanya telah pudar tergasak sinar matahari. Kadang dia mencoba menerobos kendaraan yang sedang melaju hanya untuk memenuhi permintaan para penikmat berita yang memintanya keseberang jalan.
            Dia tabah menjalani hidupnya. Harus bergulat dengan panas dan debu yang membakar kulit. Walau selapis pakaian dengan topi koplo yang  menjadi penawar terik tapi itu tidak membuat panas itu terhalang. Dia tidak menjeritkan nasib lagi. Dia  telah merasa lebih baik, lebih dari yang dulu dia rasakan. Tak ada keluhan yang terlontar dari bibirnya. Semangatnya semakin terbakar seiring terbakarnya kulit yang terpanggang mentari siang.
            Nasib telah menunjukkannya jalan yang terindah dalam hidup. Setelah dua belas tahun lalu dia meninggalkan ibunya yang bersimbah dengan lapar dan dahaga. Setelah dua belas tahun lalu dia meninggalkan ayahnya yang harus kembali kepondok reot sendiri, memikul barang dagangan yang tidak laku. Dua belas tahun lalu dia meninggalkan adik-adik perempuannya dalam kondisi yang sangat  memprihatinkan. Tapi selama dua belas tahun juga dia telah mengejar cita-citanya, memendam rindu yang mendalam. Kini dia telah mendapatkannya, meraih cita-cita yang dulu menjadi batu, tapi saat laut mengamuk saat itulah batu dalam dirinya mencair di atas perahu dan memuntahkannya di tengah samudra  yang mengamuk.
            Dua belas tahun dia telah menyisipkan sebagian dari keringatnya untuk dapat pulang, menemui sang ibu yang mungkin sedang menunggunya di depan pintu pagar. Adik-adiknya sedang menanyakan kemana kakaknya pergi dan merenggek dan menanyakan kapan kepulangan kakak pertamanya. Apakah sang ayah masih mengharapkannya untuk menemaninya kedalam hutan, mencari buah dan dedaunan sebagai sumber penghidupan.   Sudah dua belas kali dia tidak merayakan hari lebaran dengan ayah, ibunya, dan adik-adiknya. Tapi itu tidak meyurutkan semangatnya untuk terus berjuang.
Hari itu. Rabu pagi, saat mentari menunjukan diri setelah memohon ijin dari tuannya yang terkuasa. Tuhan yang maha memiliki segalanya. Randa terlihat menjinjing setumpuk surat kabar dan langsung bergegas untuk memulai harinya, menuai harapan untuk mendapatkan setiap sen-nya agar bisa kembali kepangkuan ayah dan bundanya. Memeluk kembali adik-adiknya yang mungkin sudah tidak dapat membayangkan seperti apa raut wajahnya sekarang. Seperti biasa dia menjajakan dagangannya. Menawarkan berita-berita yang tersaji dalam bentuk verbal dan visual. Issu  yang dia tawarkan masih mengenai pemberontakan di pulau ujung timur negara Indonesia. Setelah menjual dua lembar dagangannya pada seorang pengendara roda dua, Randa memperhatikan barang dagangannya.  Tak sengaja matanya memperhatikan halaman keenam yang memuat sambungan tentang berita pemberontakan itu.
Suasana semakin memanas, kondisi yang semakin tidak kondusif ini dipicu oleh kurangnya perhatian pemerintah pada kesejahteraan masyarakat pulau Rindi
Dia cuek dan tidak terlalu memperhatikan nama pulau itu sebelumnya. Pulau itu adalah pulau asalnya. Pulau yang sangat terisolir. Tanpa beranjak dari tempatnya yang  dia tidak sadari kalau dia berdiri di tengah jalan raya. Perhatiannya tersita oleh rangkaian berita yang menunjukan tempat kelahirannya.
Pimpinan dari peberontak yang menamakan dirinya Pulau Rindi Merdeka, itu di pimpin oleh seorang  laki-laki bernama  Zakariah ama Randa
Randa terpincut dan mulai merasa seolah dunia terbalik, seluruh lututnya goyang. Apakah ini ayahnya?, kalau betul ini ayahnya,  Kenapa ayahnya sampai sejauh itu?, tidakkah ayahnya rindu padanya?, pernahkah ayahnya memikirkannnya?, bagaimana nasib ibu dan adik-adiknya, apakah ibu dan adiknya pernah merindukannya untuk pulang?. Semua pikiran itu bermain dalam benaknya, membuatnya hanya bisa bergeming di tempatnya. Suara klakson kendaraan dan teriak orang-orang yang menyuruhnya menyingkir dari tengah jalan membuatnya terkejut dan kaget. Hanya nama ayahnya yang mengisi lajur pikirannya. Tanpa sadar dan dengan kondisi linglung  dia mencoba mengangkat kakinya. Baru  dua langkah dia beranjak dari  tempatnya, sebuah sepeda motor langsung menyambar tubuhnya. Randa terlempar dan terkapar enam meter dari moncong kendaraan, mendorong dan melemparnya sampai pingsan.


Anggota Forum Lingkar Pena wilayah SULSEL,
 maju terus dan teruslah berkarya.


1 komentar:

  1. Masih Pelepotan.... nda tertata, karya lama yang baru di temukan.....

    BalasHapus