Oleh: DHE2N MAULANA
“Bu....! saya
hanya minta ijin untuk bekal dalam
perjalanan”
“Tapi
ibu khawatir akan terjadi apa-apa dengan kamu di sana. Ibu juga tidak
ingin kamu meninggalkan bapakmu sendiri di sini. Kamu lihat sendiri bagaimana
kondisi keluarga kita sekarang, sebaiknya kamu menyusul ayahmu kedalam hutan. Dari
semalam bapakmu belum pulang. Dia pergi untuk mencari makanan untuk kita hari
ini”. Ucap seorang ibu yang ada di samping seorang pemuda. Duduk lesu, tersungkur di depannya. Ibu itu tampak
lusuh dengan pakaian yang yang biasa
dipakai oleh para ibu hamil, walaupun sang ibu tidak sedang hamil. Terlihat
tambalan disetiap sudut pakaiannya. Dia sedang menusukkan jarum ke kain, menambal bahu baju yang berlobang di
pangkuannya.
Merasa tidak mendapatkan apa yang
sangat diinginkannya, Pemuda itu bangun dari duduknya, tanpa perrmisi langsung berbalik
menghindar dari pandangan lesu sang ibu. Ibu merasa sangat hambar dan pahit, tidak
tega melihat anaknya patah semangat. Di sampingnya terlentang tiga orang anak manusia
di atas balai-balai bambu yang hanya beralaskan tikar dari anyaman daun pandan
yang karya sendiri. Sang suaminya mengambilnya dari pinggir pantai yang
berjarak dua kilometer dari rumahnya. Menahan lapar dalam lelapnya. Ketiganya semua
perempuan. Merekapun mengenakan pakaian yang penuh tambalan. Meskipun begitu
mereka tidak pernah mengeluhkan kelaparan yang sedang mereka jalani sekarang
kelapran karena mereka sedang beribadah, menunaikan kewajiban dibulan yang hanya
muncul sekali dalam setahun. Ramadhan, ya puasa di bulan Ramadhan.
“Aku
sudah bosan menjalani hidup seperti ini.
Hidup dengan pakaian yang ditambal. Harga diriku terasa telah terjual
dan tergadaikan oleh kemiskinan. Masih banyak yang bisa saya lakukan untuk
mengembangkan diri dan hidup ini”. Batinnya terus meronta dan menjerit. Sudah
lama amarah itu mendekam tapi masih
mampu dia tahan. Tapi menahan amarah yang sudah memnbuncah akan menjadi bara
menyala dalam dirinya. Kemarahan yang
hanya pantas untuk ditumpahkan dan
dilampiaskannya di puncak gunung tertinggi. Berteriak sekeras-kerasnya sampai
seluruh penghuni langit merasakan getaran kemarahan dan kepedihan yang sedang
dia rasakan.
“Asslamualaikum!” sebuah kata seruan
terdengar dari luar pagar reot yang sebagian telah rubuh akibat tidak pernah
terurus.
“Waalaikumussalam!”
Seorang
laki-laki yang sudah sangat lusuh menampakan wajahnya dari sebuah pintu tanpa
tirai. Dengan penuh rasa suka cita Halima menyambut suaminya yanga baru saja
pulang berjuang untuk mendapatkan harga diri sebagai seorang suami. Tangguang jawab besar untuk mengayomi hidup keluarganya
tterpatri dalam dada.
Walau hidup dengan pakaian yang penuh dengan kain yang
ditambal di setiap sudutnya tapi terasa sangat indah daripada harus mengemis dan menadahkan tangan pada
orang lain. Suaminya membawakan makanan
yang dikumulkan di tengah hutan rimba.
Dua hari dia bertarung dengan rimba belantara. Tapi tidak pernah menyerah
sampai menemukan makanan untuk anak dan istrinya.
Seikat dedaunan yang bisa dimakan dan
direbus sebagai persiapan makanan selama
satu minggu dan tiga bongkah tepung yang telah membatu yang dibungkus dengan
anyaman daun enau.beberapa biji buah
lontar dan buah kelapa hutan. cukup menjadi bekal untuk hidup. Hasil dari rotan
yang telah dikeringkan dan aakan dijual di pasar cukup untuk membeli beras
yang untuk persediaan selama dua hari.
Jarak pasar yang harus ditempuh selama delapan belas jam dan hanya digelar
selama semiggu sekali menambah sulit gerak sang suami menjalani kehidupannya
bersama anak istri.
Hari itu rabu, pagi mencium mentari yang melepaskan
kerudung malamnya. Randa yang baru saja melepaskan dua ikat buah rotan yang
dipikul dengan batang kayu mahoni tergeletak dengan peluh membasahi seluruh
tubuhnya dan membiarkannya untuk terus mengalir dan mengalir sejak dari delapan belas jam lalu. Randa sedang
asyik membatu orang tua mengelar rotan dan daun-daun yang banyak untuk
diperjual belikan, beberapa buah kelapa dan buah rotan. Kadang mereka hanya
menukarkan barang dagangannya dengan barang yang lain. Jarang terlihat uang
dalam proses perdagangan itu. Uang hanya terlihat apabila ada saudagar dari
pulau lain yang kebetulan singgah untuk beristirahat sejenak
melepas lelah. Tanpa memperhatikan
putranya yang bersimbah keringat sang
ayah langsung menggelar dagangannya.
Setengah berteriak dia menyebutkan nama-nama barang yang tergeletak
dihadapannya.
“Rotan............,
kelapa.........., buah.............., buah rotan. Ayo bapak........., ayo ibu...........,
pilih saja, masih segar-segar!”
teriaknya.
Randa
hanya melihat-lihat bagaimana ayahnya beteriak. Dan tanpa pikir panjang dia maju
ke depan dan mencoba mengambil alih kegiatan ayahnya. Pun dia lebih sengit
berteriak dan mencoba lebih bersemangat.
Perjalanan hari tidak ada yang
pernah tahu nasib apa yang akan menimpa. Pun hari itu Randa yang sejak umur
tujuh tahun mengikuti ayahnya untuk menjajakan hasil hutan yang dikumpulkan sebagai
sumber kehidupan. Kehidupan di pekan itu
sangat ramai dan penuh dengan hasil hutan. Hari itu sebuah perahu yang terlihat singgah didekat
pantai. Beberapa orang perahu besar itu terlihat turun dan menyambangi pantai
dengan sampan bawaan sendiri. Terlihat mereka mencari-cari-cari buah dan
sayuran untuk bekal perjalanan sebagai menyambung hidup di tengah badai dan
gelombang samudera yang akan menghadang perjalanan mereka kelak. Randa yang
ikut melihat kedatangan rombongan itu mencoba mempertajam pandangannya sampai
rombongan itu tepat dihadapannya. Randa termanggu bergeming.. ayahnya heran
melihat tingkah putranya dan langsung mendahului Randa untuk menawari setiap
dagangannya.
“Sihlakan
tuan, pilih saja apa saja yang tuan
inginkan, cuma beberapa sen kok tuan!” ujar sang ayah lincah. Hanya beberapa
orang yang ada pada bagian belakang yang mencoba meraba hasil dagangan ayah dan
anak itu. Perhatian mereka tertuju pada buah rotan yang sudah terlihat ranum.
Beberapa biji buah itu mereka tukar dengan harga seratus sen, mereka
melanjutkan perjalanan dan berlalu dari hadapan Randa yang masih melongo
mencoba meyakinkan diri untuk bisa melawan hasratnya yang terpendam.
Dengan rasa penasaran yang tinggi,
Randa mengangkat kakinya melangkah dan berlari mengejar rombongan itu untuk
mencoba menawarkan diri agar bisa ikut berlayar membelah gelombang mengarungi
samudra. Ternyata sangat susah menaykinkan rombongan saudagar itu agar bisa
ikut di perahu mereka, menjadi bagian dari mereka, bersatu dalam suka dan duka.
Tapi itu tidak sia-sia dia berhasil meyakinkan saudagar itu kalau dia mampu
melakukan apa saja yang diperintahkan oleh para pengarunng lautan itu. Dengan
penuh semangat Randa menyampaikan pada ayahnya bahwa dia akan ikut dengan saudagar
yang datang tadi siang dan mereka akan segera berangkat malam setelah bulan
menampakan diri di balik bukit. Sang ayah hanya diam tanpa ekspresi yang
menukung cita-cita putra pertamanya. Dia hanya mengemasi buah dan dedaunan yang
tidak terjual.
Sang Ayah kembali tanpa putranya.
Tanpa membuang waktu ia menceritakan setiap detik perjalanannya hari ini. Hari
dimana mereka harus terpisah dari putra pertamanya dan adik yang harus terpisah
dari saudara laki-laki satu-satunya.
“Bu....,
Randa tidak mau pulang, dia ingin
mengubah hidupnya yang hanya menggantungkan nasib pada hasil hutan!” ujar sang
ayah pelan sambil memandang lekat istrinya.
“Sudah
puluhan kali kali dia minta untuk pergi tapi ibu tidak pernah ijinkan, biarlah
dia pergi menapaki jalan hidupnya sendiri,
sekarang kita hanya bisa mendoakannya semoga dia bisa mendapatkan berkah
dari Allah SWT!” ujar sang ayah melanjutkan. Tak pelak, mengetahui puteranya
tidak kembali dengan sang suami ibu itupun menagis tersedu. Di sela isaknnya
dia mencoba tabah dan menyisipkan doa.
“Ya Allah, kirimkanlah rahmatMu untuk putraku dan
ssuamiku semoga dalam hasrat dan cita-citanya yang tinggi tidak ada maksiat dan
musibah. Hamba sangat berharatp dari setiap langkah cita-citanya berikanlah
berkah dan anugerah yang indak serta sampaikanlah rahmatMu untuk kami semua!” isak
an ratpan dalm doanya membuat tidak bisa melanjutkan doannya setelah itu hanya
tangisan dan dan isakan yang menyeruak di balik anyaman bambu pembatas antara
halaman dengan bagian dalam rumah. Sang ayah hanya menunggu kemunculan sang
rembulan sebagai petunjuk keberangkatan putrannya. Air matanya meleleh walau rembulan
belum menampakan batang cahayannya.
Samudra mengamuk,
laut bagai api yang sedang melahap setiap bagian yang bukit ilalang. Ombak
bagai segerombolan mulut buaya yang secara susul-menyusul menghantam kapal yang
digerakan oleh angin hujan deras berhamburan menggenangi setiap pojok perahu.
Semua yang ada dalam perahu sigap mengawasi setiap pos yang mereka jaga.
Mengencangkan tali layar dan dan mengendalikan kemudi. Hanya Randa yang
terlihat sangat memilukan. Dia oleng, oleng seperti perahu yang sedang dia tumpangi.
Muntahannya telah bercampur dengan asinnya air laut dan derasnya badai. Ini
adalah pengalaman pertamanya, menghadapi hadangan air ang tidak pernah dia
lihat dan tidak pernah orang ceritakan sebelumnya. Senyum menebar di
setiap bibir dari wajah yang
memperhatikannya. Mereka hanya bergumam. “Tabalah, tabalah, inilah yang paling
tidak diinginkan oleh orang-orang yang mengarungi samudra. Tapi ini akan
menjadi pelajaran pertama bagimu. Ayo
kuatkan hatimu!” seorang pria paruh baya yang menyatakan dirinya
pimpinan diperahu itu membatin.
* * *
“Ada berita bagus, ayo-ayo....., berita
pemberontakan masyarakat pulau di ujung timur bangsa Indonesia, dengan tangan kanan yang gesit dia mengibarkan
lembaran surat kabar. Setumpuk surat kabar masih menggantung rapi di tangan
kirinya. Dia terus menjajakan barang dagangannya, kala Traffick light menunjukan warna merah, di beraksi. Bersama dengan
teman-teman seperjuangannya. Wajahnya terbungkus slayer yang warnanya telah pudar tergasak sinar matahari. Kadang
dia mencoba menerobos kendaraan yang sedang melaju hanya untuk memenuhi
permintaan para penikmat berita yang memintanya keseberang jalan.
Dia
tabah menjalani hidupnya. Harus bergulat dengan panas dan debu yang membakar
kulit. Walau selapis pakaian dengan topi koplo yang menjadi penawar terik tapi itu tidak membuat
panas itu terhalang. Dia tidak menjeritkan nasib lagi. Dia telah merasa lebih baik, lebih dari yang dulu
dia rasakan. Tak ada keluhan yang terlontar dari bibirnya. Semangatnya semakin
terbakar seiring terbakarnya kulit yang terpanggang mentari siang.
Nasib
telah menunjukkannya jalan yang terindah dalam hidup. Setelah dua belas tahun
lalu dia meninggalkan ibunya yang bersimbah dengan lapar dan dahaga. Setelah
dua belas tahun lalu dia meninggalkan ayahnya yang harus kembali kepondok reot
sendiri, memikul barang dagangan yang tidak laku. Dua belas tahun lalu dia
meninggalkan adik-adik perempuannya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Tapi selama dua belas tahun
juga dia telah mengejar cita-citanya, memendam rindu yang mendalam. Kini dia
telah mendapatkannya, meraih cita-cita yang dulu menjadi batu, tapi saat laut
mengamuk saat itulah batu dalam dirinya mencair di atas perahu dan
memuntahkannya di tengah samudra yang
mengamuk.
Dua
belas tahun dia telah menyisipkan sebagian dari keringatnya untuk dapat pulang,
menemui sang ibu yang mungkin sedang menunggunya di depan pintu pagar.
Adik-adiknya sedang menanyakan kemana kakaknya pergi dan merenggek dan
menanyakan kapan kepulangan kakak pertamanya. Apakah sang ayah masih mengharapkannya
untuk menemaninya kedalam hutan, mencari buah dan dedaunan sebagai sumber
penghidupan. Sudah dua belas kali dia
tidak merayakan hari lebaran dengan ayah, ibunya, dan adik-adiknya. Tapi itu
tidak meyurutkan semangatnya untuk terus berjuang.
Hari itu. Rabu
pagi, saat mentari menunjukan diri setelah memohon ijin dari tuannya yang
terkuasa. Tuhan yang maha memiliki segalanya. Randa terlihat menjinjing
setumpuk surat kabar dan langsung bergegas untuk memulai harinya, menuai harapan
untuk mendapatkan setiap sen-nya agar bisa kembali kepangkuan ayah dan
bundanya. Memeluk kembali adik-adiknya yang mungkin sudah tidak dapat
membayangkan seperti apa raut wajahnya sekarang. Seperti biasa dia menjajakan
dagangannya. Menawarkan berita-berita yang tersaji dalam bentuk verbal dan
visual. Issu yang dia tawarkan masih mengenai pemberontakan
di pulau ujung timur negara Indonesia. Setelah menjual dua lembar dagangannya pada
seorang pengendara roda dua, Randa memperhatikan barang dagangannya. Tak sengaja matanya memperhatikan halaman
keenam yang memuat sambungan tentang berita pemberontakan itu.
“Suasana semakin memanas, kondisi yang
semakin tidak kondusif ini dipicu oleh kurangnya perhatian pemerintah pada
kesejahteraan masyarakat pulau Rindi”
Dia cuek dan
tidak terlalu memperhatikan nama pulau itu sebelumnya. Pulau itu adalah pulau
asalnya. Pulau yang sangat terisolir. Tanpa beranjak dari tempatnya yang dia tidak sadari kalau dia berdiri di tengah
jalan raya. Perhatiannya tersita oleh rangkaian berita yang menunjukan tempat
kelahirannya.
“Pimpinan dari
peberontak yang menamakan dirinya Pulau Rindi Merdeka, itu di pimpin oleh
seorang laki-laki bernama Zakariah ama Randa”
Randa terpincut
dan mulai merasa seolah dunia terbalik, seluruh lututnya goyang. Apakah ini
ayahnya?, kalau betul ini ayahnya, Kenapa ayahnya sampai sejauh itu?, tidakkah
ayahnya rindu padanya?, pernahkah ayahnya memikirkannnya?, bagaimana nasib ibu
dan adik-adiknya, apakah ibu dan adiknya pernah merindukannya untuk pulang?.
Semua pikiran itu bermain dalam benaknya, membuatnya hanya bisa bergeming di
tempatnya. Suara klakson kendaraan dan teriak orang-orang yang menyuruhnya
menyingkir dari tengah jalan membuatnya terkejut dan kaget. Hanya nama ayahnya
yang mengisi lajur pikirannya. Tanpa sadar dan dengan kondisi linglung dia mencoba mengangkat kakinya. Baru dua langkah dia beranjak dari tempatnya, sebuah sepeda motor langsung
menyambar tubuhnya. Randa terlempar dan terkapar enam meter dari moncong
kendaraan, mendorong dan melemparnya sampai pingsan.
Anggota Forum Lingkar Pena wilayah SULSEL,
maju terus dan
teruslah berkarya.

