By
Dheden Maulana.
Malam memandang hampa waktu, menghimpun
rahasia dalam sunyi dan kalang-kabut bintang yang bertekuk di remangan cahaya
suci rembulan. Fathir Al Badazhar terlelap dalam zikir dan pelukan malam, dekapan
sunyi yang berselimut dinginnya tiupan angin padang pasir serta lembut detakan
jantung yang terus berdenyut. Suara binatang padang pasir menggema
sahut-menyahut pelan seolah di balas oleh zikir-zikir gunung, bukit, jalan,
rumput, batu, kerikil, dan pasir yang tak terngiang serta seluruh mahluk yang
ada di hamparan langit.
Mata Fathir dengan sangat pelan
terkelupas dari pelukan kelopak tidurnya, gendang telinganya bergetar mendengar
tapak-tapak langkah yang mendekat, saat
mata memandang siapa yang ada di depanya, dia merasa seolah-olah berada di
depan seorang kesatria gagah dan perkasa, membusungkan dada, menantang dan
menatap gelapnya mentari dari balik kekarnya gunung dan gundukan padang pasir, menyambut
sang surya yang akan segera tersenyum.
Fathir langsung teringat akan perjuangan
sang sahabat Rasulullah, yang dengan gagah perkasanya telah menaklukan
musuh-musuh Allah S.W.T. Khalid Bin Walid ra-lah orangnya, seorang panglima
perang besar dalam sejarah kemerdekaan Islam yang berperan besar dalam
menegakan Kalimat Lailaha Ilallah dan keagungan islam di muka bumi. Terasa
membekas dalam nalurinya bagaiamana perjuangan beliau dalam memerangi
kebathilan demi menegakan hukum Allah dan menumbangkan hukum Alam. Tiba-tiba
air matanya menetes saat penjelahan dendrit dan jaringan otaknya meraba
bagaimana peristiwa digantikanya sang panglima dengan seorang sahabat
Rasulullah S.A.W yang sama buas, gagah dan gigihnya dalam memerangi musuh
Allah. Hempasan air mata pun semakin giat mengalir saat diri tenggelam dalam perih
perasaan, perasaan yang harus terlentang menahan rasa sakit yang hendak
merenggut nyawa, tidak pernah dia menyangka akan melepaskan nyawa di atas
tempat tidur, dengan bekas sayatan dan tusukan senjata tajam melebur jadi satu
dalam daging dan kulitnya. Kesucian diri
yang ingin mendapatkan derajat mendekati beliau Fathir Al Badazhar berdoa di
temani lelehan, desahan dan kucuran air mata, semoga dirinya yang hina dapat
memperoleh derajat keagungan iman dari sisi tersembunyi anugerah sang Khalik.
Waktu telah memasuki pukul 02:03 dini
hari, dingin hembusan napas gurun pasir terus menyengat dan lembab pelukan
embun tidak menghalangi Fathir untuk
bangun dari duduknya setelah melihat dan mendengar seorang Syekh berbalut
sorban dan kain putih, jenggot menjuntai bak sutera mengalir halus sampai dada.
Walau terlihat sudah membungkuk tapi perawakannya masih jelas menampakan
kekarnya masa muda. Jubah putih yang di kenakan melampaui sampai mata kaki meyampaikan
salam perdamaian.
“Assalamualaikum ya
Habibullah . . ! bagaimana dengan hatimu,
apakah keyakinanmu untuk meraih jihad dengan cara ini telah membulat?”
“Insya Allah, Allah telah membulatkan tegaknya tekadku untuk mengahadapi
ini semua!”. Ucap Fathir sambil mencium tangan sang Syekh.
“Aku hanya bisa mengantarmu dengan doa dan zikir untuk kesejahteraanmu!,
langkahmu adalah sejarah yang akan terukir indah dengan tintah emas dari surga
Firdaus!”. Lanjut sang Syekh.
“Syukran ya syekh” jawab Fathir mantap dan melangkah untuk mebasuh hati dan menjernihkan jiwanya dengan
air wudhu. Melihat Fathir telah ada
sedikit di belakangnya, sang Syekh-pun maklum kalau Fathir mau menjadi makmum
dalam menyembah sang Khalik. Dua rakaat
telah selesai di rampungkan dengan khidmat, sedikit zikir dan doa terlantung pelan di ujung lidah.
“Syekh setelah beberapa lembaran surat yang telah saya terima dan saya kirimkan lewat Syekh, ini adalah surat
terakhir yang mungkin mampu saya goreskan untuk orang yang belum pernah mata
ini jilati bayangnya!”. Ucap Fathir memecah kesunyian dalam gelap cahaya dan remangan gurun pasir.
“Allah akan selalu memberkahi umatnya dengan rahmat yang tiada terkira oleh siapapun!”.
“Saya harap Syekh mau mempertemukannya denganku saat terakhir ini!”
pinta Fathir yang hampir sama pelannya dengan lantunan suara Syekh sebelumnya.
“Insya Allah kamu akan bertemu dengannya, tunggulah sesaat”!.
Jawab Syekh meyakinkan. Untuk sesaat sambil menuggu apa yang
dikatakan oleh Syekh terjawab, Fathir
mundur ke sudut ruangan menelungkup dalam zikir tauhid. Dan tak beberapa saat
kemudian terdengar derap langkah yang sangat
pelan tapi jelas tercium oleh dua insan yang terlelap dalam zikir pengagunanNya
di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu minyak. Sepasang mata indah dengan
bulu yang lenting di antara himpitan cadar hitam, dari balik cadarnya terlihat
getaran yang walau di terpa belaian
lembut angin gurun, getaran tersebut tetap terlihat jelas. Tanda gadis itu
sedang melantungkan zikr-zikir lembut yang amat dasyat pengaruhnya . Seluruh tubuh sampai mata kaki,
terjuntai indah kain putih yang masih
harum oleh zaitun. Kesucian hati dan kejernihan jiwanya-lah yang terpancar dari
kain tersebut.
Aisyah itulah nama sang gadis, dengan
langkah yang sangat pelan dan mantap dia memasuki pelataran gedung yang dari
luar terlihat sangat lusuh dan tidak
terawat, saat kakinya terangkat melangkah terlihat jelas dari mata kaki sampai
betis tertutup oleh kaos kaki hitam. Yang merupakan bagian aurat yang hanya
akan di persembahkan untuk sang halal.
tanpa sadar kalau ada laki-laki lain di dalam ruangan tersebut, Sang
gadis melepaskan cadar hitam yang bersandar di wajahnya untuk sementara,
saat dia sudah sampai di hadapan sang syekh. Terpampanglah wajah ayu, mata yang
begerak indah menatap seorang Syekh penghias bumi yang sedang mengumandangkan
zikir-zikir hati. Hidung yang mancung menghiasi postur wajahnya. saat dia
memandang syekh, seuntai senyum langsung terukir indah dan sebuah kalimat salam
kesejahteraan, kedamaian terlontar indah dari bibir zikirnya yang tipis. Masya
Allah, dari
situ terlihat jelas sepasang lesung pipi melengkapi pesona
dirinya. Suara yang sangat tejaga,
lembut, tertata dan sangat merdu membuatnya hanya pantas di sebut sebagai
seorang bidadari.
Di hadapan Syekh, Aisyah berdiri untuk
menyampaikan seuntai perasaan telampir Senyum masih terkembang dari bibir,
sekali lagi salam terlontar dari Aisyah untuk menyadarkan sang Syekh dari
zikirnya yang sangat dalam.
“Assalamualaikum ya habibullah. Saya
hanya akan menyampaikan ungkapan untuk
sebuah harapan dan semoga akan menjadi kenyataan!”
salam penyampaian Aisyah melantun pelan di telinga Syekh yang terus berzikir.
“Waalikumussalam ya habiballah,” jawab Syekh pelan tapi terasa bergetar
di hati Aisyah yang sudah duduk di hadapanya.
“bagaiamana dengan tekadmu hari ini cucuku?”. Lanjut Syekh dengan
bertanya.
“Alhamdulillah kek.., insya Allah semuanya akan selesai sebelum azan
subuh berkumandang dan mentari menyinar bumi Iraq”. Jawab Aisyah yang terdengar sudah tidak menggunakan
kata Syekh untuk menyapa orang di depanya. Karena beliau adalah kakek yang selama
ini telah membesarkan dan membimbing sejak kedua orang
tuanya yang mempunyai tanggung jawab terenggut oleh Perang Teluk
yang baru reda pada tahun 1991. “Syekh tolong sampaikan harapan dalam lembaran
ini, pada orang yang telah membalas dan menerima goresan hatiku selama ini, Insya
Allah saya akan menunggunya di sana setelah keberangkatanku ini!”.
Kali ini kata-kata Aisyah sedikit
bergetar, tidak seperti pada awal dia menyapa kakeknya sendiri itu. Walau ada
senyum terukir tapi dia tidak mampu untuk menyembunyikan setetes air mata
menggeliat membelah lesung pipinya. Dari
balik jubah hitamnya Aisyah mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi,
goresan-goresan hatinya tersembunyi indah dalam lipatan kertas. Sebelum
bongkahan persaan hati tersebut di serahka,
terlebih dahulu Aisyah letakan pada kedua matanya yang lembab dan tanpa di
sadari oleh kakeknya sendiri dua tetes kelembutan naluri membasahi susut-sudut surat.
Syekh hanya mengagguk pelan sambil
sedikit menunduk. Di sambutnya uluran tangan Aisyah untuk menerima titipan. Di
sela-sela anggukannya Syekh berujar pelan.
“Allah telah menemanimu sejak lembaran pertama kau terima”. “Allah telah mulai menjagamu sejak pertama
kali engkau menatap langit”.
“Allah telah mulai memeliharamu sejak dirimu berada dalam lubuk suci
ibumu”.
“Dan kelak Allah akan memelukmu di perut Firdaus bersama pancaran naluri suci yang sangat didambakan”.
“Belaian suci dan mesra Imanmu cukup menjadi bukti perjalananmu”.
“Perjalanan menuju jannatul Firdaus tinggal selangkah,
berangkatlah Cucuku, masuki pintu surga
yang dijanjikan”. Untaian syair semangat dari sang kakek tercinta mengokohkan semangat
Aisyah. Fathir yang berada di pojok ruangan sejak tadi merasakan dan mendengarkan semua adegan kakek
dan cucunya itu. Dia hanya duduk
bergeming tapi sudah paham siapa yang telah membalas ukiran-ukiran hatinya selama ini. Bersyukur
itulah yang diteriakan oleh hati setelah apa yang telah di katakan oleh Syekh
yang ada di hadapan Aisyah menjadi kenyataan. Sungguh suatu karunia Allah S.W.T
yang tiada terkira sebelumnya, orang yang selama ini terukir samar di hatinya adalah
Aisyah, cucu dari sang Syekh sendiri.
Sebelum Aisyah sempat beranjak dari
tempatnya bersandar, Syekh memanggil Fathir yang masih duduk di pojok ruangan.
Setelah mengetahui kalau yang di pangil adalah seorang laki-laki, Aisyah yang baru
sadar akan keberadaannya buru-buru memasang kembali cadar hitamnya, melihat hal
itu Syekh memberikan isyarat dengan sedikit kedipan dan gelengan kepala agar
Aisyah tidak memasang kain tersebut. “Inilah teman perjalananmu untuk
melanjutkan langkah menuju Jannatul
Firdaus!” ucap Syekh setelah Fathir ada di depanya.
“cinta dan kasih sayang Allah akan menyertai langkah kalian.” Lanjut
sang Syekh.
Walau masih belum mengerti apa yang di maksud
oleh kakeknya, Aisyah tetap menebarkan senyum dan tak ada maksud untuk menanyakannya
kembali. Setelah menganggap urursannya
dengan sang kakek telah selesai, Aisyah beranjak meninggalkan ruangan dan Saat
tekukan lutut tertegakan dua pasang mata saling beradu, Aisyah melepaskan
senyum manis lengkap dengan lesung pipi yang tidak pernah hilang, terukir indah
rasa bahagia menyertai, bagai seekor burung yang pulang dengan perut kekenyangan.
Pada saat Aisyah sudah berada di balik
dinding untuk memasang mantel yang sudah
dibaluti rangkaian bahan peledak aktif, syekh menyerahkan lipatan kertas
terakhir dari Aisyah kepada Fathir, senyum terukir menyambut uluran tangan
syekyh tanda bahagia. Fathir merasa melangkah ke surga saat rangkaian bahan
peledak yang tersembunyi dari balik mantel hitam menemaninya meraba kata-kata yang
terukir rapi dalam lipatan kertas.
Untukmu derai napas yang mengayuh
Fathir Al Badazhar
Assalamualaikum ya habiballah
Ahlan wa sahlan
Fathir Al Badazhar, Allah telah menerangi kita dengan cahaya Islamnya
yang tersebar sampai kesudut dunia. Aku berharap dirimu akan tabah dalam
mempertahankan dan memperjuangkan
agama Allah, tapi di balik semua itu tersedia keagungan yang tidak
pernah kita sangka-sangka sebelumnya dan sadarlah kalau yang ada di dunia
hanyalah bayangan yang akan kita tinggalkan untuk kembali kepada-Nya.
Sehubungan dengan ini aku berharap dan sangat berhasrat untuk
bersua denganmu untuk menelan mentah-mentah rasa kerinduan ini. Karena selama
ini aku hanya bisa merasakan bekasbekas keringat kulit jarimu lewat unataian
kata-kata yang terukir diatas putihnya kulit gabus padat.
Fathir Al Badazhar, kau adalah orang pertama yang mengukirkan kata cinta di ujung penamu
untukku dan aku berharap semoga kata cinta itu yang terakhir untukku, bukan
kata cinta terakhir untuk orang lain sepertiku. Tapi yakinlah kalau ini adalah
surat terkhir untukmu.
Fathir Al Badazhar, dekapan sang Jibril telah memelukku
Menadah abadi dalam balutan sang Izrail
Lembut itulah yang akan aku rasakan
Selembut senyum sambut sang Ridwan
Lupakan cengkeraman sang Malik
Singkirkan catatan buruk sang Atid
Sambutlah senyum indah sang Mikail
Biarkan kita saling tertawa lewat surat-surat yang ada
Dari
pertama bekas jari berawan
Fathir
Cintaku untukmu
mengalahkan luasnya padang Arafah
Sejuknya embun malam tidak akan mampu menutupi kesejukan perasaan
ini.
Hanya lukisan kata ini yang mampu aku persembahkan
Yaitu lukisan
dari bias naluri suci
Fathir
Aku melihat sang Ridwan tersenyum
Dia telah membukakan pintu-pintu surga untuk kita
Bersama jutaan hamparan takbir yang menggagungkanNya
Bismillah, mari kita memasuki pintu rahmat yang telah terbuka.
Suqran ya Allah……………..!”
Wassalamu alaikum
Dari cahaya pengiring
langkahmu Penerang zikirmu
Aisyah Al ghifari binti Akram.
Sebelum melangkah menuju gerbang
bertahtakan hamparan jamrud yang tetata dalam kelembutan salju, Fathir
mengumandangkan Takbir dan kalimat-kalimat
tauhid.
Hari ini pasukan tambahan yang di
datangkan dari Amerika Serikat akan melewati padang gurun di selatan Tikrit jalan
yang belum teraspal menerbangkan debu dan pasir oleh lindasan kendaran
perangnya pasukan-pasukan tersebut akan menempati pos-pos di utara Baghdad, Baghdad
yang semakin hancur oleh detuman senjata bejat pasukanpasukan gabungan Amerika
Serikat, Australia, Inggris yang berhati binatang malah lebih rendah dari
binatang terus membanjiri ibu kota Irak tersebut.
Darah manusia sudah tidak dihargai sebagai darah manusia lagi. Setelah semuanya siap, Fathir memandang
sesaat sudut-sudut luar dari tempat tinggal syekh yang terletak tidak jauh dari
jalan yang akan di lewati oleh kendaraan tempur pasukan-pasukan laknat
tersebut.
Senyumnya mengiringi llangkah Fathir
menuruni bukit tempat pondok berdiri. Dua lubang sedalam 35 cm dengan panjang
200 cm dan lebar 50 cm terletak di sisi kanan dan kiri jalan. Tapi Fathir tidak
tahu akan keberadaan lubang di sisi kiri jalan. Dia hanya langsung menempati lubang
yang ada di sisi kanan jalan, tapi sebelum gundukan pasir menutup seluruh
tubuhnya Fathir menyempatkan diri mencari di mana
keberadaan sejumput laranya. Walau hari masih sangat gelap,
dingin, hening dalam remang bintang yang bertekuk setelah bulan terpeluk oleh selimut
gurun, dia hanya mendapati samar-samar kain putih tergeletak seperti tengah
meyelimuti anak manusia, 50 meter dari tempatnya merendam dalam dindinya pasir.
Hatinya langsung berdebar menjerit tak rela orang yang baru pertama kali di
tatap wajahnya menyerahkan diri dengan cara berbaring di tegah jalan menantang
maut. Tapi setelah teringat akan senyum dan penuturanya beberapa saat yang lalu
hatinya-pun tegar kembali, dia hanya bisa berdoa akan kesejahteraan sang
kemboja padang pasirnya di hari-hari baru selanjutnya. Dengan pelan dia mulai
mengubur diri sampai hanya bagian wajah yang tidak tertutupi.
Allahu Akbar, dari jarak 200 meter dari
arah timur daya mulai terdengar dentuman senjata otomatis menghantam angkasa.
bejat sifat mereka, hanya pantas di balas dengan rendaman Neraka Jahanam. Suara
desiran peluru, roda-roda dan mesin-mesin Kendaraan Lapis Baja, Tank, Truk,
Panser dan Alteleri terus mendekat dengan moncong-moncong senjata menodong
kesegala arah, Menggetarkan seantero tempat Fathir dan Aisyah berbaring. Untuk
terakhir kalinya Fathir bedoa sepeti doa yang telah terucapkan sebelumnya
mengharap barokah dari sang Khalik untuk mendapatkan derajat yang mendekati
khalid bin Walid dan berharap nikmat seperti yang di rasakan oleh sahabat
Rasulullah S.A.W, Ali bin Abu Tholib yang mendapatakan karunia berupa seorang
istri solehah, putri dari Rasulullah sendiri, Siti Fatimah AZ Zahra.
Begitupun dengan Aisyah, berdoa semoga
mendapatkan karunia dan nikmat Allah agar di pertemukan dengan sang penakluh
naluri sucinya, yang telah di persembahkan oleh Ilahi Rabbi walaupun dia harus menunggu
di pintu surga untuk dapat melangkah bersama-sama memasukinya. Dan berharap
semoga dapat memperoleh nikmat yang sama seperti yang dirasakan oleh putri
Rasulullah S.A.W, Siti Fatimah AZ Zahrah yang mendapatkan karunia berupa
seorang suami yang sholeh,
sepupu Rasulullah sendiri Ali bin Abu Tholib. Tiba-tiba setelah 15
meter kendaraan pertama melewati mereka, suara kendaraan-kendaran perang
tersebut memelan dan berhenti. Sunyi, hampa tanpa suara yang menderu hanya
gelap yang menyelimuti di
temani bisikan angin sepoi yang membelai.
“Oe……………h, di depan ada jebakan ………..!” teriak seorang tentara
yang berada di kendaraan tank paling depan memecah desiran angin membelah sunyi
sambil tangannya menujuk kedepan kearah dimana selembar kain putih tergeletak
terkulai telah di terangi oleh sorotan lampu senjata. “tembak saja………, kamukan
punya senjata tolol………….!” menyahut seorang tentara dari arah belakang yang
tenyata adalah komandanya.
“ oh iya…… ya……!” Gumanya pelan. Dentuman senjata dan desiaran
peluru-pun terlontar liar menghujam kain putih bergeming di atas pasir. “pasukan
……, sapu bersih tikus-tikus yang bersembunyi di depan!”. Teriak komandan,
kulitnya yang hitam legam hampir tak terlihat di gelapnya remangan bintang,
hanya matanya yang menyala, gigi yang telah tertutup oleh candu tembakau dan
teriakannya yang kentara membahana.tujuh orang tentara terlihat melompat turun
dari truk yang memuat dua puluh orang tentara dan tiga dari masing masing
kendaraan lapis baja, panser dan alteleri sedangkan yang tersisa di atas
kendaran bersiaga.
Inilah saat yang tepat untuk melewati
sayap sang Ridwan,mencium aroma madu dari sungai surga Firdaus. Dari balik
tumpukan pasir gurun, Fathir dan Aisyah yag berada disisi kanan dan kiri jalan
mulai merasa jengkel akan keberadaan pasukan tersebut. Dengan denyutan jantung yang
terus mengencang. tentara AS mulai mendekati tempat mereka tapi karena melihat
temanya sudah menendang-nendang kain yang hanya di pakai sebagai selimut
tumpukan batang gandum merekapun melangkah kembali kearah kendarannya
masing-masing. saat itulah Fathir dan Aisyah bergerak, diawali dengan takbir
“Allahu Akbar” yang terus mengalir, dua bayangan berkelebat di tengah desiran
angin dan sunyi. mereka menerjang
kendaraan dan truk pasukan laknat tersebut.
“D U A R………. “
“D U A R………. “
Dua ledakan keras mengguncang Tikrit bagian selatan. Dua Truk dan
satu panser pasukan hancur jadi arang, menewaskan 21 orang pasukan,dan
mencederai 16 lainnya.
Fathir Al Badazhar dan Aisyah Al Gifari
binti Akram pulang di jemput oleh senyum Izrail, disambut pelukan Ridwan yang,
mereka melangkah bergandengan tangan, lembaran-lembaran sutera hijau dengan
semerbak Zaitun telah tergantung di tubuh mereka. Pesta pekawinanpun di mulai, dihadiri
oleh para Rasul-Rasul Allah, Malaikat–Malaikat Allah dan seluruh sahabat
rasulullah yang sama-sama syahid di jalan Allah S.W.T. kain sucinya telah
berganti dengan gaun pengantin dari surga. Walimahpun berlangsung dengan
lambaian dan pelukan zikir mengagungkan-Nya. Pagi tiba, dunia gempar, gedung
putih terguncang dasyat oleh selembar mukenah yang hancur di terjang peluru.
Bush hanya bisa nyengir dengan muka layu sambil gigit jari.
Makassar 27 Februari 2007
Untuk para saudaraku yang
Syahid di medan
Perjuangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar