Sabtu, 17 November 2012



GAUN PENGANTIN SURGA
By
Dheden Maulana.

Malam memandang hampa waktu, menghimpun rahasia dalam sunyi dan kalang-kabut bintang yang bertekuk di remangan cahaya suci rembulan. Fathir Al Badazhar terlelap dalam zikir dan pelukan malam, dekapan sunyi yang berselimut dinginnya tiupan angin padang pasir serta lembut detakan jantung yang terus berdenyut. Suara binatang padang pasir menggema sahut-menyahut pelan seolah di balas oleh zikir-zikir gunung, bukit, jalan, rumput, batu, kerikil, dan pasir yang tak terngiang serta seluruh mahluk yang ada di hamparan langit.
Mata Fathir dengan sangat pelan terkelupas dari pelukan kelopak tidurnya, gendang telinganya bergetar mendengar tapak-tapak langkah  yang mendekat, saat mata memandang siapa yang ada di depanya, dia merasa seolah-olah berada di depan seorang kesatria gagah dan perkasa, membusungkan dada, menantang dan menatap gelapnya mentari dari balik kekarnya gunung dan gundukan padang pasir, menyambut sang surya yang akan segera tersenyum.
Fathir langsung teringat akan perjuangan sang sahabat Rasulullah, yang dengan gagah perkasanya telah menaklukan musuh-musuh Allah S.W.T. Khalid Bin Walid ra-lah orangnya, seorang panglima perang besar dalam sejarah kemerdekaan Islam yang berperan besar dalam menegakan Kalimat Lailaha Ilallah dan keagungan islam di muka bumi. Terasa membekas dalam nalurinya bagaiamana perjuangan beliau dalam memerangi kebathilan demi menegakan hukum Allah dan menumbangkan hukum Alam. Tiba-tiba air matanya menetes saat penjelahan dendrit dan jaringan otaknya meraba bagaimana peristiwa digantikanya sang panglima dengan seorang sahabat Rasulullah S.A.W yang sama buas, gagah dan gigihnya dalam memerangi musuh Allah. Hempasan air mata pun semakin giat mengalir saat diri tenggelam dalam perih perasaan, perasaan yang harus terlentang menahan rasa sakit yang hendak merenggut nyawa, tidak pernah dia menyangka akan melepaskan nyawa di atas tempat tidur, dengan bekas sayatan dan tusukan senjata tajam melebur jadi satu dalam daging dan kulitnya.  Kesucian diri yang ingin mendapatkan derajat mendekati beliau Fathir Al Badazhar berdoa di temani lelehan, desahan dan kucuran air mata, semoga dirinya yang hina dapat memperoleh derajat keagungan iman dari sisi tersembunyi anugerah sang Khalik.
Waktu telah memasuki pukul 02:03 dini hari, dingin hembusan napas gurun pasir terus menyengat dan lembab pelukan embun tidak  menghalangi Fathir untuk bangun dari duduknya setelah melihat dan mendengar seorang Syekh berbalut sorban dan kain putih, jenggot menjuntai bak sutera mengalir halus sampai dada. Walau terlihat sudah membungkuk tapi perawakannya masih jelas menampakan kekarnya masa muda. Jubah putih yang di kenakan melampaui sampai mata kaki meyampaikan salam perdamaian.
 “Assalamualaikum ya Habibullah . . ! bagaimana dengan hatimu,  apakah keyakinanmu untuk meraih jihad dengan cara ini telah membulat?”
“Insya Allah, Allah telah membulatkan tegaknya tekadku untuk mengahadapi ini semua!”. Ucap Fathir sambil mencium tangan sang Syekh.
“Aku hanya bisa mengantarmu dengan doa dan zikir untuk kesejahteraanmu!, langkahmu adalah sejarah yang akan terukir indah dengan tintah emas dari surga Firdaus!”. Lanjut sang Syekh.
“Syukran ya syekh” jawab Fathir mantap dan melangkah untuk  mebasuh hati dan menjernihkan jiwanya dengan air wudhu.  Melihat Fathir telah ada sedikit di belakangnya, sang Syekh-pun maklum kalau Fathir mau menjadi makmum dalam menyembah sang  Khalik. Dua rakaat telah selesai di rampungkan dengan khidmat, sedikit zikir  dan doa terlantung pelan di ujung lidah.   
“Syekh setelah beberapa lembaran surat yang telah saya terima dan  saya kirimkan lewat Syekh, ini adalah surat terakhir yang mungkin mampu saya goreskan untuk orang yang belum pernah mata ini jilati bayangnya!”. Ucap Fathir memecah kesunyian dalam gelap cahaya  dan remangan gurun pasir.
“Allah akan selalu memberkahi umatnya dengan rahmat yang tiada  terkira oleh siapapun!”.
“Saya harap Syekh mau mempertemukannya denganku saat terakhir ini!” pinta Fathir yang hampir sama pelannya dengan lantunan suara Syekh sebelumnya.
“Insya Allah kamu akan bertemu dengannya, tunggulah sesaat”!.
Jawab Syekh meyakinkan. Untuk sesaat sambil menuggu apa yang dikatakan oleh Syekh  terjawab, Fathir mundur ke sudut ruangan menelungkup dalam zikir tauhid. Dan tak beberapa saat kemudian terdengar derap langkah yang  sangat pelan tapi jelas tercium oleh dua insan yang terlelap dalam zikir pengagunanNya di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu minyak. Sepasang mata indah dengan bulu yang lenting di antara himpitan cadar hitam, dari balik cadarnya terlihat getaran yang walau di terpa  belaian lembut angin gurun, getaran tersebut tetap terlihat jelas. Tanda gadis itu sedang melantungkan zikr-zikir lembut yang amat dasyat  pengaruhnya . Seluruh tubuh sampai mata kaki, terjuntai indah kain putih  yang masih harum oleh zaitun. Kesucian hati dan kejernihan jiwanya-lah yang terpancar dari kain tersebut.
Aisyah itulah nama sang gadis, dengan langkah yang sangat pelan dan mantap dia memasuki pelataran gedung yang dari luar terlihat sangat  lusuh dan tidak terawat, saat kakinya terangkat melangkah terlihat jelas dari mata kaki sampai betis tertutup oleh kaos kaki hitam. Yang merupakan bagian aurat yang hanya akan di persembahkan untuk sang  halal. tanpa sadar kalau ada laki-laki lain di dalam ruangan tersebut, Sang
gadis melepaskan cadar hitam yang bersandar di wajahnya untuk sementara, saat dia sudah sampai di hadapan sang syekh. Terpampanglah wajah ayu, mata yang begerak indah menatap seorang Syekh penghias bumi yang sedang mengumandangkan zikir-zikir hati. Hidung yang mancung menghiasi postur wajahnya. saat dia memandang syekh, seuntai senyum langsung terukir indah dan sebuah kalimat salam kesejahteraan, kedamaian terlontar indah dari bibir zikirnya yang tipis. Masya Allah, dari
situ terlihat jelas sepasang lesung pipi melengkapi pesona dirinya. Suara  yang sangat tejaga, lembut, tertata dan sangat merdu membuatnya hanya pantas di sebut sebagai seorang bidadari.
Di hadapan Syekh, Aisyah berdiri untuk menyampaikan seuntai perasaan telampir Senyum masih terkembang dari bibir, sekali lagi salam terlontar dari Aisyah untuk menyadarkan sang Syekh dari zikirnya yang sangat dalam.
“Assalamualaikum ya habibullah. Saya hanya akan menyampaikan  ungkapan untuk sebuah harapan dan semoga akan menjadi  kenyataan!” salam penyampaian Aisyah melantun pelan di telinga Syekh yang terus berzikir.
“Waalikumussalam ya habiballah,” jawab Syekh pelan tapi terasa bergetar di hati Aisyah yang sudah duduk di hadapanya.
“bagaiamana dengan tekadmu hari ini cucuku?”. Lanjut Syekh dengan bertanya.
“Alhamdulillah kek.., insya Allah semuanya akan selesai sebelum azan subuh berkumandang dan mentari menyinar bumi Iraq”. Jawab  Aisyah yang terdengar sudah tidak menggunakan kata Syekh untuk menyapa orang di depanya. Karena beliau adalah kakek yang selama ini telah membesarkan dan membimbing sejak kedua orang
tuanya yang mempunyai tanggung jawab terenggut oleh Perang Teluk yang baru reda pada tahun 1991. “Syekh tolong sampaikan harapan dalam lembaran ini, pada orang yang telah membalas dan menerima goresan hatiku selama ini, Insya Allah saya akan menunggunya di sana setelah keberangkatanku ini!”.
Kali ini kata-kata Aisyah sedikit bergetar, tidak seperti pada awal dia menyapa kakeknya sendiri itu. Walau ada senyum terukir tapi dia tidak mampu untuk menyembunyikan setetes air mata menggeliat membelah  lesung pipinya. Dari balik jubah hitamnya Aisyah mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi, goresan-goresan hatinya tersembunyi indah dalam lipatan kertas. Sebelum bongkahan persaan hati tersebut di  serahka, terlebih dahulu Aisyah letakan pada kedua matanya yang lembab dan tanpa di sadari oleh kakeknya sendiri dua tetes kelembutan naluri  membasahi susut-sudut surat.
Syekh hanya mengagguk pelan sambil sedikit menunduk. Di sambutnya uluran tangan Aisyah untuk menerima titipan. Di sela-sela anggukannya Syekh berujar pelan.
“Allah telah menemanimu sejak lembaran pertama kau terima”.  “Allah telah mulai menjagamu sejak pertama kali engkau menatap  langit”.
“Allah telah mulai memeliharamu sejak dirimu berada dalam lubuk suci ibumu”.
“Dan kelak Allah akan memelukmu di perut Firdaus bersama  pancaran naluri suci yang sangat didambakan”.
“Belaian suci dan mesra Imanmu cukup menjadi bukti perjalananmu”.
“Perjalanan menuju jannatul Firdaus tinggal selangkah, berangkatlah  Cucuku, masuki pintu surga yang dijanjikan”. Untaian syair semangat dari sang kakek tercinta mengokohkan semangat Aisyah. Fathir yang berada di pojok ruangan sejak tadi  merasakan dan mendengarkan semua adegan kakek dan cucunya itu. Dia  hanya duduk bergeming tapi sudah paham siapa yang telah membalas  ukiran-ukiran hatinya selama ini. Bersyukur itulah yang diteriakan oleh hati setelah apa yang telah di katakan oleh Syekh yang ada di hadapan Aisyah menjadi kenyataan. Sungguh suatu karunia Allah S.W.T yang tiada terkira sebelumnya, orang yang selama ini terukir samar di hatinya adalah Aisyah, cucu dari sang Syekh sendiri.
Sebelum Aisyah sempat beranjak dari tempatnya bersandar, Syekh memanggil Fathir yang masih duduk di pojok ruangan. Setelah mengetahui kalau yang di pangil adalah seorang laki-laki, Aisyah yang baru sadar akan keberadaannya buru-buru memasang kembali cadar hitamnya, melihat hal itu Syekh memberikan isyarat dengan sedikit kedipan dan gelengan kepala agar Aisyah tidak memasang kain tersebut. “Inilah teman perjalananmu untuk melanjutkan langkah menuju  Jannatul Firdaus!” ucap Syekh setelah Fathir ada di depanya.
“cinta dan kasih sayang Allah akan menyertai langkah kalian.” Lanjut sang Syekh.
Walau masih belum mengerti apa yang di maksud oleh kakeknya, Aisyah tetap menebarkan senyum dan tak ada maksud untuk menanyakannya kembali.  Setelah menganggap urursannya dengan sang kakek telah selesai, Aisyah beranjak meninggalkan ruangan dan Saat tekukan lutut tertegakan dua pasang mata saling beradu, Aisyah melepaskan senyum manis lengkap dengan lesung pipi yang tidak pernah hilang, terukir indah rasa bahagia menyertai, bagai seekor burung yang pulang dengan perut kekenyangan.
Pada saat Aisyah sudah berada di balik dinding untuk memasang  mantel yang sudah dibaluti rangkaian bahan peledak aktif, syekh menyerahkan lipatan kertas terakhir dari Aisyah kepada Fathir, senyum terukir menyambut uluran tangan syekyh tanda bahagia. Fathir merasa melangkah ke surga saat rangkaian bahan peledak yang tersembunyi dari balik mantel hitam menemaninya meraba kata-kata yang terukir rapi dalam lipatan kertas.

Untukmu derai napas yang mengayuh
Fathir Al Badazhar
Assalamualaikum ya habiballah

Ahlan wa sahlan
Fathir Al Badazhar, Allah telah menerangi kita dengan cahaya Islamnya yang tersebar sampai kesudut dunia. Aku berharap dirimu akan tabah dalam mempertahankan dan memperjuangkan
agama Allah, tapi di balik semua itu tersedia keagungan yang tidak pernah kita sangka-sangka sebelumnya dan sadarlah kalau yang ada di dunia hanyalah bayangan yang akan kita tinggalkan untuk kembali kepada-Nya.
Sehubungan dengan ini aku berharap dan sangat berhasrat untuk bersua denganmu untuk menelan mentah-mentah rasa kerinduan ini. Karena selama ini aku hanya bisa merasakan bekasbekas keringat kulit jarimu lewat unataian kata-kata yang terukir diatas putihnya kulit gabus padat.
Fathir Al Badazhar, kau adalah orang pertama yang  mengukirkan kata cinta di ujung penamu untukku dan aku berharap semoga kata cinta itu yang terakhir untukku, bukan kata cinta terakhir untuk orang lain sepertiku. Tapi yakinlah kalau ini adalah surat terkhir untukmu.
Fathir Al Badazhar, dekapan sang Jibril telah memelukku
Menadah abadi dalam balutan sang Izrail
Lembut itulah yang akan aku rasakan
Selembut senyum sambut sang Ridwan
Lupakan cengkeraman sang Malik
Singkirkan catatan buruk sang Atid
Sambutlah senyum indah sang Mikail
Biarkan kita saling tertawa lewat surat-surat yang ada 
Dari pertama bekas jari berawan
Fathir
Cintaku untukmu
mengalahkan luasnya padang Arafah
Sejuknya embun malam tidak akan mampu menutupi kesejukan perasaan ini.
Hanya lukisan kata ini yang mampu aku persembahkan 
Yaitu lukisan dari bias naluri suci
Fathir
Aku melihat sang Ridwan tersenyum
Dia telah membukakan pintu-pintu surga untuk kita
Bersama jutaan hamparan takbir yang menggagungkanNya
Bismillah, mari kita memasuki pintu rahmat yang telah terbuka.
Suqran ya Allah……………..!”
Wassalamu alaikum
Dari cahaya pengiring
langkahmu Penerang zikirmu
Aisyah Al ghifari binti Akram.

Sebelum melangkah menuju gerbang bertahtakan hamparan jamrud yang tetata dalam kelembutan salju, Fathir mengumandangkan Takbir dan  kalimat-kalimat tauhid.
Hari ini pasukan tambahan yang di datangkan dari Amerika Serikat akan melewati padang gurun di selatan Tikrit jalan yang belum teraspal menerbangkan debu dan pasir oleh lindasan kendaran perangnya pasukan-pasukan tersebut akan menempati pos-pos di utara Baghdad, Baghdad yang semakin hancur oleh detuman senjata bejat pasukanpasukan gabungan Amerika Serikat, Australia, Inggris yang berhati binatang malah lebih rendah dari binatang terus membanjiri ibu kota Irak  tersebut. Darah manusia sudah tidak dihargai sebagai darah manusia lagi.  Setelah semuanya siap, Fathir memandang sesaat sudut-sudut luar dari tempat tinggal syekh yang terletak tidak jauh dari jalan yang akan di lewati oleh kendaraan tempur pasukan-pasukan laknat tersebut.
Senyumnya mengiringi llangkah Fathir menuruni bukit tempat pondok berdiri. Dua lubang sedalam 35 cm dengan panjang 200 cm dan lebar 50 cm terletak di sisi kanan dan kiri jalan. Tapi Fathir tidak tahu akan keberadaan lubang di sisi kiri jalan. Dia hanya langsung menempati lubang yang ada di sisi kanan jalan, tapi sebelum gundukan pasir menutup seluruh tubuhnya Fathir menyempatkan diri mencari di mana
keberadaan sejumput laranya. Walau hari masih sangat gelap, dingin, hening dalam remang bintang yang bertekuk setelah bulan terpeluk oleh selimut gurun, dia hanya mendapati samar-samar kain putih tergeletak seperti tengah meyelimuti anak manusia, 50 meter dari tempatnya merendam dalam dindinya pasir. Hatinya langsung berdebar menjerit tak rela orang yang baru pertama kali di tatap wajahnya menyerahkan diri dengan cara berbaring di tegah jalan menantang maut. Tapi setelah teringat akan senyum dan penuturanya beberapa saat yang lalu hatinya-pun tegar kembali, dia hanya bisa berdoa akan kesejahteraan sang kemboja padang pasirnya di hari-hari baru selanjutnya. Dengan pelan dia mulai mengubur diri sampai hanya bagian wajah yang tidak tertutupi.
Allahu Akbar, dari jarak 200 meter dari arah timur daya mulai terdengar dentuman senjata otomatis menghantam angkasa. bejat sifat mereka, hanya pantas di balas dengan rendaman Neraka Jahanam. Suara desiran peluru, roda-roda dan mesin-mesin Kendaraan Lapis Baja, Tank, Truk, Panser dan Alteleri terus mendekat dengan moncong-moncong senjata menodong kesegala arah, Menggetarkan seantero tempat Fathir dan Aisyah berbaring. Untuk terakhir kalinya Fathir bedoa sepeti doa yang telah terucapkan sebelumnya mengharap barokah dari sang Khalik untuk mendapatkan derajat yang mendekati khalid bin Walid dan berharap nikmat seperti yang di rasakan oleh sahabat Rasulullah S.A.W, Ali bin Abu Tholib yang mendapatakan karunia berupa seorang istri solehah, putri dari Rasulullah sendiri, Siti Fatimah AZ Zahra.
Begitupun dengan Aisyah, berdoa semoga mendapatkan karunia dan nikmat Allah agar di pertemukan dengan sang penakluh naluri sucinya, yang telah di persembahkan oleh Ilahi Rabbi walaupun dia harus menunggu di pintu surga untuk dapat melangkah bersama-sama memasukinya. Dan berharap semoga dapat memperoleh nikmat yang sama seperti yang dirasakan oleh putri Rasulullah S.A.W, Siti Fatimah AZ Zahrah yang mendapatkan karunia berupa seorang suami yang sholeh,
sepupu Rasulullah sendiri Ali bin Abu Tholib. Tiba-tiba setelah 15 meter kendaraan pertama melewati mereka, suara kendaraan-kendaran perang tersebut memelan dan berhenti. Sunyi, hampa tanpa suara yang menderu hanya gelap yang menyelimuti di
temani bisikan angin sepoi yang membelai.
“Oe……………h, di depan ada jebakan ………..!” teriak seorang tentara yang berada di kendaraan tank paling depan memecah desiran angin membelah sunyi sambil tangannya menujuk kedepan kearah dimana selembar kain putih tergeletak terkulai telah di terangi oleh sorotan lampu senjata. “tembak saja………, kamukan punya senjata tolol………….!” menyahut seorang tentara dari arah belakang yang tenyata adalah komandanya.
“ oh iya…… ya……!” Gumanya pelan. Dentuman senjata dan desiaran peluru-pun terlontar liar menghujam kain putih bergeming di atas pasir. “pasukan ……, sapu bersih tikus-tikus yang bersembunyi di depan!”. Teriak komandan, kulitnya yang hitam legam hampir tak terlihat di gelapnya remangan bintang, hanya matanya yang menyala, gigi yang telah tertutup oleh candu tembakau dan teriakannya yang kentara membahana.tujuh orang tentara terlihat melompat turun dari truk yang memuat dua puluh orang tentara dan tiga dari masing masing kendaraan lapis baja, panser dan alteleri sedangkan yang tersisa di atas kendaran bersiaga.
Inilah saat yang tepat untuk melewati sayap sang Ridwan,mencium aroma madu dari sungai surga Firdaus. Dari balik tumpukan pasir gurun, Fathir dan Aisyah yag berada disisi kanan dan kiri jalan mulai merasa jengkel akan keberadaan pasukan tersebut. Dengan denyutan jantung yang terus mengencang. tentara AS mulai mendekati tempat mereka tapi karena melihat temanya sudah menendang-nendang kain yang hanya di pakai sebagai selimut tumpukan batang gandum merekapun melangkah kembali kearah kendarannya masing-masing. saat itulah Fathir dan Aisyah bergerak, diawali dengan takbir “Allahu Akbar” yang terus mengalir, dua bayangan berkelebat di tengah desiran angin dan sunyi.  mereka menerjang kendaraan dan truk pasukan laknat tersebut. 
“D U A R………. “
“D U A R………. “
Dua ledakan keras mengguncang Tikrit bagian selatan. Dua Truk dan satu panser pasukan hancur jadi arang, menewaskan 21 orang pasukan,dan mencederai 16 lainnya.
Fathir Al Badazhar dan Aisyah Al Gifari binti Akram pulang di jemput oleh senyum Izrail, disambut pelukan Ridwan yang, mereka melangkah bergandengan tangan, lembaran-lembaran sutera hijau dengan semerbak Zaitun telah tergantung di tubuh mereka. Pesta pekawinanpun di mulai, dihadiri oleh para Rasul-Rasul Allah, Malaikat–Malaikat Allah dan seluruh sahabat rasulullah yang sama-sama syahid di jalan Allah S.W.T. kain sucinya telah berganti dengan gaun pengantin dari surga. Walimahpun berlangsung dengan lambaian dan pelukan zikir mengagungkan-Nya. Pagi tiba, dunia gempar, gedung putih terguncang dasyat oleh selembar mukenah yang hancur di terjang peluru. Bush hanya bisa nyengir dengan muka layu sambil gigit jari.


Makassar 27 Februari 2007
Untuk para saudaraku yang
Syahid di medan
Perjuangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar