Sabtu, 17 November 2012



KURINDU KAU MERINDUKU
Oleh: DHE2N MAULANA

“Bu....! saya hanya minta ijin  untuk bekal dalam perjalanan”
“Tapi ibu khawatir akan terjadi apa-apa dengan kamu di sana. Ibu juga tidak ingin kamu meninggalkan bapakmu sendiri di sini. Kamu lihat sendiri bagaimana kondisi keluarga kita sekarang, sebaiknya kamu menyusul ayahmu kedalam hutan. Dari semalam bapakmu belum pulang. Dia pergi untuk mencari makanan untuk kita hari ini”. Ucap seorang ibu yang ada di samping seorang pemuda. Duduk  lesu, tersungkur di depannya. Ibu itu tampak lusuh dengan pakaian yang  yang biasa dipakai oleh para ibu hamil, walaupun sang ibu tidak sedang hamil. Terlihat tambalan disetiap sudut pakaiannya. Dia sedang menusukkan jarum ke  kain, menambal bahu baju yang berlobang di pangkuannya.
            Merasa tidak mendapatkan apa yang sangat diinginkannya, Pemuda itu bangun dari duduknya, tanpa perrmisi langsung berbalik menghindar dari pandangan lesu sang ibu. Ibu merasa sangat hambar dan pahit, tidak tega melihat anaknya patah semangat. Di sampingnya terlentang tiga orang anak manusia di atas balai-balai bambu yang hanya beralaskan tikar dari anyaman daun pandan yang karya sendiri. Sang suaminya mengambilnya dari pinggir pantai yang berjarak dua kilometer dari rumahnya. Menahan  lapar dalam lelapnya. Ketiganya semua perempuan. Merekapun mengenakan pakaian yang penuh tambalan. Meskipun begitu mereka tidak pernah mengeluhkan kelaparan yang sedang mereka jalani sekarang kelapran karena mereka sedang beribadah, menunaikan kewajiban dibulan yang hanya muncul sekali dalam setahun. Ramadhan, ya puasa di bulan Ramadhan.
“Aku sudah bosan menjalani hidup seperti ini.  Hidup dengan pakaian yang ditambal. Harga diriku terasa telah terjual dan tergadaikan oleh kemiskinan. Masih banyak yang bisa saya lakukan untuk mengembangkan diri dan hidup ini”. Batinnya terus meronta dan menjerit. Sudah lama amarah itu mendekam tapi  masih mampu dia tahan. Tapi menahan amarah yang sudah memnbuncah akan menjadi bara menyala dalam dirinya. Kemarahan  yang hanya pantas untuk ditumpahkan dan  dilampiaskannya di puncak gunung tertinggi. Berteriak sekeras-kerasnya sampai seluruh penghuni langit merasakan getaran kemarahan dan kepedihan yang sedang dia rasakan.  
Asslamualaikum!” sebuah kata seruan terdengar dari luar pagar reot yang sebagian telah rubuh akibat tidak pernah terurus.
Waalaikumussalam!”
Seorang laki-laki yang sudah sangat lusuh menampakan wajahnya dari sebuah pintu tanpa tirai. Dengan penuh rasa suka cita Halima menyambut suaminya yanga baru saja pulang berjuang untuk mendapatkan harga diri sebagai seorang suami.  Tangguang jawab  besar untuk mengayomi hidup keluarganya tterpatri dalam dada.
Walau hidup dengan pakaian yang penuh dengan kain yang ditambal di setiap sudutnya tapi terasa sangat indah daripada  harus mengemis dan menadahkan tangan pada orang lain.  Suaminya membawakan makanan yang   dikumulkan di tengah hutan rimba. Dua hari dia bertarung dengan rimba belantara. Tapi tidak pernah menyerah sampai menemukan makanan untuk anak dan istrinya.
            Seikat dedaunan yang bisa dimakan dan direbus sebagai persiapan makanan  selama satu minggu dan tiga bongkah tepung yang telah membatu yang dibungkus dengan anyaman  daun enau.beberapa biji buah lontar dan buah kelapa hutan. cukup menjadi bekal untuk hidup. Hasil dari rotan yang telah dikeringkan dan aakan dijual di pasar cukup untuk membeli beras yang  untuk persediaan selama dua hari. Jarak pasar yang harus ditempuh selama delapan belas jam dan hanya digelar selama semiggu sekali menambah sulit gerak sang suami menjalani kehidupannya bersama anak istri.
Hari itu rabu, pagi mencium mentari yang melepaskan kerudung malamnya. Randa yang baru saja melepaskan dua ikat buah rotan yang dipikul dengan batang kayu mahoni tergeletak dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya dan membiarkannya untuk terus mengalir dan mengalir sejak  dari delapan belas jam lalu. Randa sedang asyik membatu orang tua mengelar rotan dan daun-daun yang banyak untuk diperjual belikan, beberapa buah kelapa dan buah rotan. Kadang mereka hanya menukarkan barang dagangannya dengan barang yang lain. Jarang terlihat uang dalam proses perdagangan itu. Uang hanya terlihat apabila ada saudagar dari pulau lain  yang  kebetulan singgah untuk beristirahat sejenak melepas lelah.  Tanpa memperhatikan putranya yang bersimbah keringat  sang ayah langsung menggelar dagangannya.  Setengah berteriak dia menyebutkan nama-nama barang yang tergeletak dihadapannya.
“Rotan............, kelapa.........., buah.............., buah rotan. Ayo bapak........., ayo ibu..........., pilih  saja, masih segar-segar!” teriaknya.
Randa hanya melihat-lihat bagaimana ayahnya beteriak. Dan tanpa pikir panjang dia maju ke depan dan mencoba mengambil alih kegiatan ayahnya. Pun dia lebih sengit berteriak dan mencoba lebih bersemangat.
            Perjalanan hari tidak ada yang pernah tahu nasib apa yang akan menimpa. Pun hari itu Randa yang sejak umur tujuh tahun mengikuti ayahnya untuk menjajakan hasil hutan yang dikumpulkan sebagai sumber kehidupan.  Kehidupan di pekan itu sangat ramai dan penuh dengan hasil hutan. Hari itu  sebuah perahu yang terlihat singgah didekat pantai. Beberapa orang perahu besar itu terlihat turun dan menyambangi pantai dengan sampan bawaan sendiri. Terlihat mereka mencari-cari-cari buah dan sayuran untuk bekal perjalanan sebagai menyambung hidup di tengah badai dan gelombang samudera yang akan menghadang perjalanan mereka kelak. Randa yang ikut melihat kedatangan rombongan itu mencoba mempertajam pandangannya sampai rombongan itu tepat dihadapannya. Randa termanggu bergeming.. ayahnya heran melihat tingkah putranya dan langsung mendahului Randa untuk menawari setiap dagangannya.
“Sihlakan tuan, pilih saja apa saja yang tuan  inginkan, cuma beberapa sen kok tuan!” ujar sang ayah lincah. Hanya beberapa orang yang ada pada bagian belakang yang mencoba meraba hasil dagangan ayah dan anak itu. Perhatian mereka tertuju pada buah rotan yang sudah terlihat ranum. Beberapa biji buah itu mereka tukar dengan harga seratus sen, mereka melanjutkan perjalanan dan berlalu dari hadapan Randa yang masih melongo mencoba meyakinkan diri untuk bisa melawan hasratnya yang terpendam.
            Dengan rasa penasaran yang tinggi, Randa mengangkat kakinya melangkah dan berlari mengejar rombongan itu untuk mencoba menawarkan diri agar bisa ikut berlayar membelah gelombang mengarungi samudra. Ternyata sangat susah menaykinkan rombongan saudagar itu agar bisa ikut di perahu mereka, menjadi bagian dari mereka, bersatu dalam suka dan duka. Tapi itu tidak sia-sia dia berhasil meyakinkan saudagar itu kalau dia mampu melakukan apa saja yang diperintahkan oleh para pengarunng lautan itu. Dengan penuh semangat Randa menyampaikan pada ayahnya bahwa dia akan ikut dengan saudagar yang datang tadi siang dan mereka akan segera berangkat malam setelah bulan menampakan diri di balik bukit. Sang ayah hanya diam tanpa ekspresi yang menukung cita-cita putra pertamanya. Dia hanya mengemasi buah dan dedaunan yang tidak terjual.
            Sang Ayah kembali tanpa putranya. Tanpa membuang waktu ia menceritakan setiap detik perjalanannya hari ini. Hari dimana mereka harus terpisah dari putra pertamanya dan adik yang harus terpisah dari saudara laki-laki satu-satunya.
“Bu...., Randa tidak mau  pulang, dia ingin mengubah hidupnya yang hanya menggantungkan nasib pada hasil hutan!” ujar sang ayah pelan sambil memandang lekat istrinya.
“Sudah puluhan kali kali dia minta untuk pergi tapi ibu tidak pernah ijinkan, biarlah dia pergi menapaki jalan hidupnya sendiri,  sekarang kita hanya bisa mendoakannya semoga dia bisa mendapatkan berkah dari Allah SWT!” ujar sang ayah melanjutkan. Tak pelak, mengetahui puteranya tidak kembali dengan sang suami ibu itupun menagis tersedu. Di sela isaknnya dia mencoba tabah dan menyisipkan doa.
“Ya Allah, kirimkanlah rahmatMu untuk putraku dan ssuamiku semoga dalam hasrat dan cita-citanya yang tinggi tidak ada maksiat dan musibah. Hamba sangat berharatp dari setiap langkah cita-citanya berikanlah berkah dan anugerah yang indak serta sampaikanlah rahmatMu untuk kami semua!” isak an ratpan dalm doanya membuat tidak bisa melanjutkan doannya setelah itu hanya tangisan dan dan isakan yang menyeruak di balik anyaman bambu pembatas antara halaman dengan bagian dalam rumah. Sang ayah hanya menunggu kemunculan sang rembulan sebagai petunjuk keberangkatan  putrannya. Air matanya meleleh walau rembulan belum menampakan batang cahayannya.
Samudra mengamuk, laut bagai api yang sedang melahap setiap bagian yang bukit ilalang. Ombak bagai segerombolan mulut buaya yang secara susul-menyusul menghantam kapal yang digerakan oleh angin hujan deras berhamburan menggenangi setiap pojok perahu. Semua yang ada dalam perahu sigap mengawasi setiap pos yang mereka jaga. Mengencangkan tali layar dan dan mengendalikan kemudi. Hanya Randa yang terlihat sangat memilukan. Dia oleng, oleng seperti perahu yang sedang dia tumpangi. Muntahannya telah bercampur dengan asinnya air laut dan derasnya badai. Ini adalah pengalaman pertamanya, menghadapi hadangan air ang tidak pernah dia lihat dan tidak pernah orang ceritakan sebelumnya. Senyum menebar di setiap  bibir dari wajah yang memperhatikannya. Mereka hanya bergumam. “Tabalah, tabalah, inilah yang paling tidak diinginkan oleh orang-orang yang mengarungi samudra. Tapi ini akan menjadi pelajaran pertama bagimu. Ayo  kuatkan hatimu!” seorang pria paruh baya yang menyatakan dirinya pimpinan diperahu itu membatin.
* * *
        “Ada berita bagus, ayo-ayo....., berita pemberontakan masyarakat pulau di ujung timur bangsa Indonesia,  dengan tangan kanan yang gesit dia mengibarkan lembaran surat kabar.  Setumpuk  surat kabar masih menggantung rapi di tangan kirinya. Dia terus menjajakan barang dagangannya, kala Traffick light menunjukan warna merah, di beraksi. Bersama dengan teman-teman seperjuangannya. Wajahnya terbungkus slayer yang warnanya telah pudar tergasak sinar matahari. Kadang dia mencoba menerobos kendaraan yang sedang melaju hanya untuk memenuhi permintaan para penikmat berita yang memintanya keseberang jalan.
            Dia tabah menjalani hidupnya. Harus bergulat dengan panas dan debu yang membakar kulit. Walau selapis pakaian dengan topi koplo yang  menjadi penawar terik tapi itu tidak membuat panas itu terhalang. Dia tidak menjeritkan nasib lagi. Dia  telah merasa lebih baik, lebih dari yang dulu dia rasakan. Tak ada keluhan yang terlontar dari bibirnya. Semangatnya semakin terbakar seiring terbakarnya kulit yang terpanggang mentari siang.
            Nasib telah menunjukkannya jalan yang terindah dalam hidup. Setelah dua belas tahun lalu dia meninggalkan ibunya yang bersimbah dengan lapar dan dahaga. Setelah dua belas tahun lalu dia meninggalkan ayahnya yang harus kembali kepondok reot sendiri, memikul barang dagangan yang tidak laku. Dua belas tahun lalu dia meninggalkan adik-adik perempuannya dalam kondisi yang sangat  memprihatinkan. Tapi selama dua belas tahun juga dia telah mengejar cita-citanya, memendam rindu yang mendalam. Kini dia telah mendapatkannya, meraih cita-cita yang dulu menjadi batu, tapi saat laut mengamuk saat itulah batu dalam dirinya mencair di atas perahu dan memuntahkannya di tengah samudra  yang mengamuk.
            Dua belas tahun dia telah menyisipkan sebagian dari keringatnya untuk dapat pulang, menemui sang ibu yang mungkin sedang menunggunya di depan pintu pagar. Adik-adiknya sedang menanyakan kemana kakaknya pergi dan merenggek dan menanyakan kapan kepulangan kakak pertamanya. Apakah sang ayah masih mengharapkannya untuk menemaninya kedalam hutan, mencari buah dan dedaunan sebagai sumber penghidupan.   Sudah dua belas kali dia tidak merayakan hari lebaran dengan ayah, ibunya, dan adik-adiknya. Tapi itu tidak meyurutkan semangatnya untuk terus berjuang.
Hari itu. Rabu pagi, saat mentari menunjukan diri setelah memohon ijin dari tuannya yang terkuasa. Tuhan yang maha memiliki segalanya. Randa terlihat menjinjing setumpuk surat kabar dan langsung bergegas untuk memulai harinya, menuai harapan untuk mendapatkan setiap sen-nya agar bisa kembali kepangkuan ayah dan bundanya. Memeluk kembali adik-adiknya yang mungkin sudah tidak dapat membayangkan seperti apa raut wajahnya sekarang. Seperti biasa dia menjajakan dagangannya. Menawarkan berita-berita yang tersaji dalam bentuk verbal dan visual. Issu  yang dia tawarkan masih mengenai pemberontakan di pulau ujung timur negara Indonesia. Setelah menjual dua lembar dagangannya pada seorang pengendara roda dua, Randa memperhatikan barang dagangannya.  Tak sengaja matanya memperhatikan halaman keenam yang memuat sambungan tentang berita pemberontakan itu.
Suasana semakin memanas, kondisi yang semakin tidak kondusif ini dipicu oleh kurangnya perhatian pemerintah pada kesejahteraan masyarakat pulau Rindi
Dia cuek dan tidak terlalu memperhatikan nama pulau itu sebelumnya. Pulau itu adalah pulau asalnya. Pulau yang sangat terisolir. Tanpa beranjak dari tempatnya yang  dia tidak sadari kalau dia berdiri di tengah jalan raya. Perhatiannya tersita oleh rangkaian berita yang menunjukan tempat kelahirannya.
Pimpinan dari peberontak yang menamakan dirinya Pulau Rindi Merdeka, itu di pimpin oleh seorang  laki-laki bernama  Zakariah ama Randa
Randa terpincut dan mulai merasa seolah dunia terbalik, seluruh lututnya goyang. Apakah ini ayahnya?, kalau betul ini ayahnya,  Kenapa ayahnya sampai sejauh itu?, tidakkah ayahnya rindu padanya?, pernahkah ayahnya memikirkannnya?, bagaimana nasib ibu dan adik-adiknya, apakah ibu dan adiknya pernah merindukannya untuk pulang?. Semua pikiran itu bermain dalam benaknya, membuatnya hanya bisa bergeming di tempatnya. Suara klakson kendaraan dan teriak orang-orang yang menyuruhnya menyingkir dari tengah jalan membuatnya terkejut dan kaget. Hanya nama ayahnya yang mengisi lajur pikirannya. Tanpa sadar dan dengan kondisi linglung  dia mencoba mengangkat kakinya. Baru  dua langkah dia beranjak dari  tempatnya, sebuah sepeda motor langsung menyambar tubuhnya. Randa terlempar dan terkapar enam meter dari moncong kendaraan, mendorong dan melemparnya sampai pingsan.


Anggota Forum Lingkar Pena wilayah SULSEL,
 maju terus dan teruslah berkarya.




GAUN PENGANTIN SURGA
By
Dheden Maulana.

Malam memandang hampa waktu, menghimpun rahasia dalam sunyi dan kalang-kabut bintang yang bertekuk di remangan cahaya suci rembulan. Fathir Al Badazhar terlelap dalam zikir dan pelukan malam, dekapan sunyi yang berselimut dinginnya tiupan angin padang pasir serta lembut detakan jantung yang terus berdenyut. Suara binatang padang pasir menggema sahut-menyahut pelan seolah di balas oleh zikir-zikir gunung, bukit, jalan, rumput, batu, kerikil, dan pasir yang tak terngiang serta seluruh mahluk yang ada di hamparan langit.
Mata Fathir dengan sangat pelan terkelupas dari pelukan kelopak tidurnya, gendang telinganya bergetar mendengar tapak-tapak langkah  yang mendekat, saat mata memandang siapa yang ada di depanya, dia merasa seolah-olah berada di depan seorang kesatria gagah dan perkasa, membusungkan dada, menantang dan menatap gelapnya mentari dari balik kekarnya gunung dan gundukan padang pasir, menyambut sang surya yang akan segera tersenyum.
Fathir langsung teringat akan perjuangan sang sahabat Rasulullah, yang dengan gagah perkasanya telah menaklukan musuh-musuh Allah S.W.T. Khalid Bin Walid ra-lah orangnya, seorang panglima perang besar dalam sejarah kemerdekaan Islam yang berperan besar dalam menegakan Kalimat Lailaha Ilallah dan keagungan islam di muka bumi. Terasa membekas dalam nalurinya bagaiamana perjuangan beliau dalam memerangi kebathilan demi menegakan hukum Allah dan menumbangkan hukum Alam. Tiba-tiba air matanya menetes saat penjelahan dendrit dan jaringan otaknya meraba bagaimana peristiwa digantikanya sang panglima dengan seorang sahabat Rasulullah S.A.W yang sama buas, gagah dan gigihnya dalam memerangi musuh Allah. Hempasan air mata pun semakin giat mengalir saat diri tenggelam dalam perih perasaan, perasaan yang harus terlentang menahan rasa sakit yang hendak merenggut nyawa, tidak pernah dia menyangka akan melepaskan nyawa di atas tempat tidur, dengan bekas sayatan dan tusukan senjata tajam melebur jadi satu dalam daging dan kulitnya.  Kesucian diri yang ingin mendapatkan derajat mendekati beliau Fathir Al Badazhar berdoa di temani lelehan, desahan dan kucuran air mata, semoga dirinya yang hina dapat memperoleh derajat keagungan iman dari sisi tersembunyi anugerah sang Khalik.
Waktu telah memasuki pukul 02:03 dini hari, dingin hembusan napas gurun pasir terus menyengat dan lembab pelukan embun tidak  menghalangi Fathir untuk bangun dari duduknya setelah melihat dan mendengar seorang Syekh berbalut sorban dan kain putih, jenggot menjuntai bak sutera mengalir halus sampai dada. Walau terlihat sudah membungkuk tapi perawakannya masih jelas menampakan kekarnya masa muda. Jubah putih yang di kenakan melampaui sampai mata kaki meyampaikan salam perdamaian.
 “Assalamualaikum ya Habibullah . . ! bagaimana dengan hatimu,  apakah keyakinanmu untuk meraih jihad dengan cara ini telah membulat?”
“Insya Allah, Allah telah membulatkan tegaknya tekadku untuk mengahadapi ini semua!”. Ucap Fathir sambil mencium tangan sang Syekh.
“Aku hanya bisa mengantarmu dengan doa dan zikir untuk kesejahteraanmu!, langkahmu adalah sejarah yang akan terukir indah dengan tintah emas dari surga Firdaus!”. Lanjut sang Syekh.
“Syukran ya syekh” jawab Fathir mantap dan melangkah untuk  mebasuh hati dan menjernihkan jiwanya dengan air wudhu.  Melihat Fathir telah ada sedikit di belakangnya, sang Syekh-pun maklum kalau Fathir mau menjadi makmum dalam menyembah sang  Khalik. Dua rakaat telah selesai di rampungkan dengan khidmat, sedikit zikir  dan doa terlantung pelan di ujung lidah.   
“Syekh setelah beberapa lembaran surat yang telah saya terima dan  saya kirimkan lewat Syekh, ini adalah surat terakhir yang mungkin mampu saya goreskan untuk orang yang belum pernah mata ini jilati bayangnya!”. Ucap Fathir memecah kesunyian dalam gelap cahaya  dan remangan gurun pasir.
“Allah akan selalu memberkahi umatnya dengan rahmat yang tiada  terkira oleh siapapun!”.
“Saya harap Syekh mau mempertemukannya denganku saat terakhir ini!” pinta Fathir yang hampir sama pelannya dengan lantunan suara Syekh sebelumnya.
“Insya Allah kamu akan bertemu dengannya, tunggulah sesaat”!.
Jawab Syekh meyakinkan. Untuk sesaat sambil menuggu apa yang dikatakan oleh Syekh  terjawab, Fathir mundur ke sudut ruangan menelungkup dalam zikir tauhid. Dan tak beberapa saat kemudian terdengar derap langkah yang  sangat pelan tapi jelas tercium oleh dua insan yang terlelap dalam zikir pengagunanNya di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu minyak. Sepasang mata indah dengan bulu yang lenting di antara himpitan cadar hitam, dari balik cadarnya terlihat getaran yang walau di terpa  belaian lembut angin gurun, getaran tersebut tetap terlihat jelas. Tanda gadis itu sedang melantungkan zikr-zikir lembut yang amat dasyat  pengaruhnya . Seluruh tubuh sampai mata kaki, terjuntai indah kain putih  yang masih harum oleh zaitun. Kesucian hati dan kejernihan jiwanya-lah yang terpancar dari kain tersebut.
Aisyah itulah nama sang gadis, dengan langkah yang sangat pelan dan mantap dia memasuki pelataran gedung yang dari luar terlihat sangat  lusuh dan tidak terawat, saat kakinya terangkat melangkah terlihat jelas dari mata kaki sampai betis tertutup oleh kaos kaki hitam. Yang merupakan bagian aurat yang hanya akan di persembahkan untuk sang  halal. tanpa sadar kalau ada laki-laki lain di dalam ruangan tersebut, Sang
gadis melepaskan cadar hitam yang bersandar di wajahnya untuk sementara, saat dia sudah sampai di hadapan sang syekh. Terpampanglah wajah ayu, mata yang begerak indah menatap seorang Syekh penghias bumi yang sedang mengumandangkan zikir-zikir hati. Hidung yang mancung menghiasi postur wajahnya. saat dia memandang syekh, seuntai senyum langsung terukir indah dan sebuah kalimat salam kesejahteraan, kedamaian terlontar indah dari bibir zikirnya yang tipis. Masya Allah, dari
situ terlihat jelas sepasang lesung pipi melengkapi pesona dirinya. Suara  yang sangat tejaga, lembut, tertata dan sangat merdu membuatnya hanya pantas di sebut sebagai seorang bidadari.
Di hadapan Syekh, Aisyah berdiri untuk menyampaikan seuntai perasaan telampir Senyum masih terkembang dari bibir, sekali lagi salam terlontar dari Aisyah untuk menyadarkan sang Syekh dari zikirnya yang sangat dalam.
“Assalamualaikum ya habibullah. Saya hanya akan menyampaikan  ungkapan untuk sebuah harapan dan semoga akan menjadi  kenyataan!” salam penyampaian Aisyah melantun pelan di telinga Syekh yang terus berzikir.
“Waalikumussalam ya habiballah,” jawab Syekh pelan tapi terasa bergetar di hati Aisyah yang sudah duduk di hadapanya.
“bagaiamana dengan tekadmu hari ini cucuku?”. Lanjut Syekh dengan bertanya.
“Alhamdulillah kek.., insya Allah semuanya akan selesai sebelum azan subuh berkumandang dan mentari menyinar bumi Iraq”. Jawab  Aisyah yang terdengar sudah tidak menggunakan kata Syekh untuk menyapa orang di depanya. Karena beliau adalah kakek yang selama ini telah membesarkan dan membimbing sejak kedua orang
tuanya yang mempunyai tanggung jawab terenggut oleh Perang Teluk yang baru reda pada tahun 1991. “Syekh tolong sampaikan harapan dalam lembaran ini, pada orang yang telah membalas dan menerima goresan hatiku selama ini, Insya Allah saya akan menunggunya di sana setelah keberangkatanku ini!”.
Kali ini kata-kata Aisyah sedikit bergetar, tidak seperti pada awal dia menyapa kakeknya sendiri itu. Walau ada senyum terukir tapi dia tidak mampu untuk menyembunyikan setetes air mata menggeliat membelah  lesung pipinya. Dari balik jubah hitamnya Aisyah mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi, goresan-goresan hatinya tersembunyi indah dalam lipatan kertas. Sebelum bongkahan persaan hati tersebut di  serahka, terlebih dahulu Aisyah letakan pada kedua matanya yang lembab dan tanpa di sadari oleh kakeknya sendiri dua tetes kelembutan naluri  membasahi susut-sudut surat.
Syekh hanya mengagguk pelan sambil sedikit menunduk. Di sambutnya uluran tangan Aisyah untuk menerima titipan. Di sela-sela anggukannya Syekh berujar pelan.
“Allah telah menemanimu sejak lembaran pertama kau terima”.  “Allah telah mulai menjagamu sejak pertama kali engkau menatap  langit”.
“Allah telah mulai memeliharamu sejak dirimu berada dalam lubuk suci ibumu”.
“Dan kelak Allah akan memelukmu di perut Firdaus bersama  pancaran naluri suci yang sangat didambakan”.
“Belaian suci dan mesra Imanmu cukup menjadi bukti perjalananmu”.
“Perjalanan menuju jannatul Firdaus tinggal selangkah, berangkatlah  Cucuku, masuki pintu surga yang dijanjikan”. Untaian syair semangat dari sang kakek tercinta mengokohkan semangat Aisyah. Fathir yang berada di pojok ruangan sejak tadi  merasakan dan mendengarkan semua adegan kakek dan cucunya itu. Dia  hanya duduk bergeming tapi sudah paham siapa yang telah membalas  ukiran-ukiran hatinya selama ini. Bersyukur itulah yang diteriakan oleh hati setelah apa yang telah di katakan oleh Syekh yang ada di hadapan Aisyah menjadi kenyataan. Sungguh suatu karunia Allah S.W.T yang tiada terkira sebelumnya, orang yang selama ini terukir samar di hatinya adalah Aisyah, cucu dari sang Syekh sendiri.
Sebelum Aisyah sempat beranjak dari tempatnya bersandar, Syekh memanggil Fathir yang masih duduk di pojok ruangan. Setelah mengetahui kalau yang di pangil adalah seorang laki-laki, Aisyah yang baru sadar akan keberadaannya buru-buru memasang kembali cadar hitamnya, melihat hal itu Syekh memberikan isyarat dengan sedikit kedipan dan gelengan kepala agar Aisyah tidak memasang kain tersebut. “Inilah teman perjalananmu untuk melanjutkan langkah menuju  Jannatul Firdaus!” ucap Syekh setelah Fathir ada di depanya.
“cinta dan kasih sayang Allah akan menyertai langkah kalian.” Lanjut sang Syekh.
Walau masih belum mengerti apa yang di maksud oleh kakeknya, Aisyah tetap menebarkan senyum dan tak ada maksud untuk menanyakannya kembali.  Setelah menganggap urursannya dengan sang kakek telah selesai, Aisyah beranjak meninggalkan ruangan dan Saat tekukan lutut tertegakan dua pasang mata saling beradu, Aisyah melepaskan senyum manis lengkap dengan lesung pipi yang tidak pernah hilang, terukir indah rasa bahagia menyertai, bagai seekor burung yang pulang dengan perut kekenyangan.
Pada saat Aisyah sudah berada di balik dinding untuk memasang  mantel yang sudah dibaluti rangkaian bahan peledak aktif, syekh menyerahkan lipatan kertas terakhir dari Aisyah kepada Fathir, senyum terukir menyambut uluran tangan syekyh tanda bahagia. Fathir merasa melangkah ke surga saat rangkaian bahan peledak yang tersembunyi dari balik mantel hitam menemaninya meraba kata-kata yang terukir rapi dalam lipatan kertas.

Untukmu derai napas yang mengayuh
Fathir Al Badazhar
Assalamualaikum ya habiballah

Ahlan wa sahlan
Fathir Al Badazhar, Allah telah menerangi kita dengan cahaya Islamnya yang tersebar sampai kesudut dunia. Aku berharap dirimu akan tabah dalam mempertahankan dan memperjuangkan
agama Allah, tapi di balik semua itu tersedia keagungan yang tidak pernah kita sangka-sangka sebelumnya dan sadarlah kalau yang ada di dunia hanyalah bayangan yang akan kita tinggalkan untuk kembali kepada-Nya.
Sehubungan dengan ini aku berharap dan sangat berhasrat untuk bersua denganmu untuk menelan mentah-mentah rasa kerinduan ini. Karena selama ini aku hanya bisa merasakan bekasbekas keringat kulit jarimu lewat unataian kata-kata yang terukir diatas putihnya kulit gabus padat.
Fathir Al Badazhar, kau adalah orang pertama yang  mengukirkan kata cinta di ujung penamu untukku dan aku berharap semoga kata cinta itu yang terakhir untukku, bukan kata cinta terakhir untuk orang lain sepertiku. Tapi yakinlah kalau ini adalah surat terkhir untukmu.
Fathir Al Badazhar, dekapan sang Jibril telah memelukku
Menadah abadi dalam balutan sang Izrail
Lembut itulah yang akan aku rasakan
Selembut senyum sambut sang Ridwan
Lupakan cengkeraman sang Malik
Singkirkan catatan buruk sang Atid
Sambutlah senyum indah sang Mikail
Biarkan kita saling tertawa lewat surat-surat yang ada 
Dari pertama bekas jari berawan
Fathir
Cintaku untukmu
mengalahkan luasnya padang Arafah
Sejuknya embun malam tidak akan mampu menutupi kesejukan perasaan ini.
Hanya lukisan kata ini yang mampu aku persembahkan 
Yaitu lukisan dari bias naluri suci
Fathir
Aku melihat sang Ridwan tersenyum
Dia telah membukakan pintu-pintu surga untuk kita
Bersama jutaan hamparan takbir yang menggagungkanNya
Bismillah, mari kita memasuki pintu rahmat yang telah terbuka.
Suqran ya Allah……………..!”
Wassalamu alaikum
Dari cahaya pengiring
langkahmu Penerang zikirmu
Aisyah Al ghifari binti Akram.

Sebelum melangkah menuju gerbang bertahtakan hamparan jamrud yang tetata dalam kelembutan salju, Fathir mengumandangkan Takbir dan  kalimat-kalimat tauhid.
Hari ini pasukan tambahan yang di datangkan dari Amerika Serikat akan melewati padang gurun di selatan Tikrit jalan yang belum teraspal menerbangkan debu dan pasir oleh lindasan kendaran perangnya pasukan-pasukan tersebut akan menempati pos-pos di utara Baghdad, Baghdad yang semakin hancur oleh detuman senjata bejat pasukanpasukan gabungan Amerika Serikat, Australia, Inggris yang berhati binatang malah lebih rendah dari binatang terus membanjiri ibu kota Irak  tersebut. Darah manusia sudah tidak dihargai sebagai darah manusia lagi.  Setelah semuanya siap, Fathir memandang sesaat sudut-sudut luar dari tempat tinggal syekh yang terletak tidak jauh dari jalan yang akan di lewati oleh kendaraan tempur pasukan-pasukan laknat tersebut.
Senyumnya mengiringi llangkah Fathir menuruni bukit tempat pondok berdiri. Dua lubang sedalam 35 cm dengan panjang 200 cm dan lebar 50 cm terletak di sisi kanan dan kiri jalan. Tapi Fathir tidak tahu akan keberadaan lubang di sisi kiri jalan. Dia hanya langsung menempati lubang yang ada di sisi kanan jalan, tapi sebelum gundukan pasir menutup seluruh tubuhnya Fathir menyempatkan diri mencari di mana
keberadaan sejumput laranya. Walau hari masih sangat gelap, dingin, hening dalam remang bintang yang bertekuk setelah bulan terpeluk oleh selimut gurun, dia hanya mendapati samar-samar kain putih tergeletak seperti tengah meyelimuti anak manusia, 50 meter dari tempatnya merendam dalam dindinya pasir. Hatinya langsung berdebar menjerit tak rela orang yang baru pertama kali di tatap wajahnya menyerahkan diri dengan cara berbaring di tegah jalan menantang maut. Tapi setelah teringat akan senyum dan penuturanya beberapa saat yang lalu hatinya-pun tegar kembali, dia hanya bisa berdoa akan kesejahteraan sang kemboja padang pasirnya di hari-hari baru selanjutnya. Dengan pelan dia mulai mengubur diri sampai hanya bagian wajah yang tidak tertutupi.
Allahu Akbar, dari jarak 200 meter dari arah timur daya mulai terdengar dentuman senjata otomatis menghantam angkasa. bejat sifat mereka, hanya pantas di balas dengan rendaman Neraka Jahanam. Suara desiran peluru, roda-roda dan mesin-mesin Kendaraan Lapis Baja, Tank, Truk, Panser dan Alteleri terus mendekat dengan moncong-moncong senjata menodong kesegala arah, Menggetarkan seantero tempat Fathir dan Aisyah berbaring. Untuk terakhir kalinya Fathir bedoa sepeti doa yang telah terucapkan sebelumnya mengharap barokah dari sang Khalik untuk mendapatkan derajat yang mendekati khalid bin Walid dan berharap nikmat seperti yang di rasakan oleh sahabat Rasulullah S.A.W, Ali bin Abu Tholib yang mendapatakan karunia berupa seorang istri solehah, putri dari Rasulullah sendiri, Siti Fatimah AZ Zahra.
Begitupun dengan Aisyah, berdoa semoga mendapatkan karunia dan nikmat Allah agar di pertemukan dengan sang penakluh naluri sucinya, yang telah di persembahkan oleh Ilahi Rabbi walaupun dia harus menunggu di pintu surga untuk dapat melangkah bersama-sama memasukinya. Dan berharap semoga dapat memperoleh nikmat yang sama seperti yang dirasakan oleh putri Rasulullah S.A.W, Siti Fatimah AZ Zahrah yang mendapatkan karunia berupa seorang suami yang sholeh,
sepupu Rasulullah sendiri Ali bin Abu Tholib. Tiba-tiba setelah 15 meter kendaraan pertama melewati mereka, suara kendaraan-kendaran perang tersebut memelan dan berhenti. Sunyi, hampa tanpa suara yang menderu hanya gelap yang menyelimuti di
temani bisikan angin sepoi yang membelai.
“Oe……………h, di depan ada jebakan ………..!” teriak seorang tentara yang berada di kendaraan tank paling depan memecah desiran angin membelah sunyi sambil tangannya menujuk kedepan kearah dimana selembar kain putih tergeletak terkulai telah di terangi oleh sorotan lampu senjata. “tembak saja………, kamukan punya senjata tolol………….!” menyahut seorang tentara dari arah belakang yang tenyata adalah komandanya.
“ oh iya…… ya……!” Gumanya pelan. Dentuman senjata dan desiaran peluru-pun terlontar liar menghujam kain putih bergeming di atas pasir. “pasukan ……, sapu bersih tikus-tikus yang bersembunyi di depan!”. Teriak komandan, kulitnya yang hitam legam hampir tak terlihat di gelapnya remangan bintang, hanya matanya yang menyala, gigi yang telah tertutup oleh candu tembakau dan teriakannya yang kentara membahana.tujuh orang tentara terlihat melompat turun dari truk yang memuat dua puluh orang tentara dan tiga dari masing masing kendaraan lapis baja, panser dan alteleri sedangkan yang tersisa di atas kendaran bersiaga.
Inilah saat yang tepat untuk melewati sayap sang Ridwan,mencium aroma madu dari sungai surga Firdaus. Dari balik tumpukan pasir gurun, Fathir dan Aisyah yag berada disisi kanan dan kiri jalan mulai merasa jengkel akan keberadaan pasukan tersebut. Dengan denyutan jantung yang terus mengencang. tentara AS mulai mendekati tempat mereka tapi karena melihat temanya sudah menendang-nendang kain yang hanya di pakai sebagai selimut tumpukan batang gandum merekapun melangkah kembali kearah kendarannya masing-masing. saat itulah Fathir dan Aisyah bergerak, diawali dengan takbir “Allahu Akbar” yang terus mengalir, dua bayangan berkelebat di tengah desiran angin dan sunyi.  mereka menerjang kendaraan dan truk pasukan laknat tersebut. 
“D U A R………. “
“D U A R………. “
Dua ledakan keras mengguncang Tikrit bagian selatan. Dua Truk dan satu panser pasukan hancur jadi arang, menewaskan 21 orang pasukan,dan mencederai 16 lainnya.
Fathir Al Badazhar dan Aisyah Al Gifari binti Akram pulang di jemput oleh senyum Izrail, disambut pelukan Ridwan yang, mereka melangkah bergandengan tangan, lembaran-lembaran sutera hijau dengan semerbak Zaitun telah tergantung di tubuh mereka. Pesta pekawinanpun di mulai, dihadiri oleh para Rasul-Rasul Allah, Malaikat–Malaikat Allah dan seluruh sahabat rasulullah yang sama-sama syahid di jalan Allah S.W.T. kain sucinya telah berganti dengan gaun pengantin dari surga. Walimahpun berlangsung dengan lambaian dan pelukan zikir mengagungkan-Nya. Pagi tiba, dunia gempar, gedung putih terguncang dasyat oleh selembar mukenah yang hancur di terjang peluru. Bush hanya bisa nyengir dengan muka layu sambil gigit jari.


Makassar 27 Februari 2007
Untuk para saudaraku yang
Syahid di medan
Perjuangan.


Kamis, 12 Juli 2012

Central Bisnis Districk (CBD) dan Terbentuknya Urban Sprawl Kota Makassar




A.           Latar Belakang
Perkembangan Kota Makassar yang begitu pesat dan akan terus berlanjut dengan berbagai kemajuan dan terobosan-terobosan yang dilakukan oleh pemerintah kota Makassar, pengusaha, masyarakat local, dan kaum urbanis yang ada di Kota Makassar. Perkembangan spasial Kota Makassar yang mengarah pada ekspansi dan yang terus meluas ke daerah-daerah yang ada di sekitarnya,slah satu factor yang mempengaruhi Perkembangan pusat kota Makassar tidak lepas dari perkembangan tumbuhnya daerah-daerah baru di pinggiran kota Makassar, sehingga kebutuhan lahan kota Makassar terus meningkat. Teori Konsentris (Burgess,1925) yang menyatakan bahwa Daerah Pusat Kota (DPK) atau Central Bussiness District (CBD) adalah pusat kota yang letaknya tepat di tengah kota dan berbentuk bundar yang merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik, serta merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi dalam suatu kota.
Pertumbuhan DPK atau CBD Kota Makassar memaksa terjadinya ekspansi lahan (urban sprawl) ke arah pinggiran Kota guna memenuhi kebutuhan ruang akan terus berlangsung, namun perkembangan urban sprawl memunculkan masalah-masalah baru didaerah pinggiran.
DPK atau CBD tersebut terbagi atas dua bagian, yaitu: pertama, bagian paling inti atau RBD (Retail Business District) dengan kegiatan dominan pertokoan, perkantoran dan jasa; kedua, bagian di luarnya atau WBD (Wholesale Business District) yang ditempati oleh bangunan dengan peruntukan kegiatan ekonomi skala besar, seperti pasar, pergudangan (warehouse), dan gedung penyimpanan barang supaya tahan lama (storage buildings).
Tingginya aktifitas dan kebutuhan lahan di daerah pusat kota, menyebabkan harga lahan semakin meningkat dan memaksa sebagian masyarakat untuk memilih hidup dan membangun daerah hunian baru di daerah pinggiran. Hunian-hunian mewah baru terus tumbuh dan berkembang di daerah pinggiran. Hal itupun mendorong meningkatnya harga lahan yang ada di daerah pinggiran tersebut. Selain tingginya harga lahan didaerah pusat kota, pertumbuhan jumlah penduduk dan yang disebabkan oleh tingginya aktifitas menyebabkan kualitas daerah pusat Kota Makassar menurun. dari segi humanity, lingkungan, maupun estetika, pusat-pusat kota Makassar sudah tidak sesuai dengan ketetapan undang-undang penataan ruang no 26 tahun 2007. Diakui atau tidak Kota Makassar masih jauh tertinggal dibanding kota lain yang ada di Indonesia, apalagi mau membandingkan Kota Makassar dengan Kota-kota yang sudah berskala internasional di dunia.
Angka pengangguran dan kemiskinan di Kota Makassar terus meningkat dari tahun-ketahun.  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),hingga September 2010, jumlah warga miskin Kota Makassar mencapai 78.700 jiwa masuk kategori rumah tangga miskin (RTM). Tingkat kriminalitas pun begitu. Hampir setiap hari terdengar kasus-kasus kriminal, pencurian, pencopetan, dan lain-lain. Kota sudah tidak memberikan rasa aman bagi penghuninya. Dari aspek lingkungan, kualitas kota Makassar masih rendah. Masalah kemacetan,  polusi atau kualitas udara belum mampu dicarikan jalan keluarnya. Begitu juga dengan masalah persampahan yang sampai hari ini membuat kota Makassar terkesan tidak nyaman.
Permasalahan-permasalah daerah pusat Kota Makassar dan daerah ekspansi (urban sprawl)  menjadi perhatian serius pemerintah Kota, masyarakat dan seluruh stakeholder di Kota Makassar. Untuk itu perkembangan Kota Makassar kedepannya menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali, dan harus tetap berpatokan pada peraturan dan undang-undang yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah Kota Makassar.
B.            Ungkapan Masalah
Berdasarkan latar belakang, dapat uraikan ungkapan masalah sebagai berikut:
-      Bagaimana pusat Kota Makassar (CBD) membentuk daerah Urban Sprawl  Kota Makassar dalam perspektif  teori perencanaan wilayah dan kota?
C.           Tujuan
Berdasarakan ungkapan masalah, tujuan penulisan makalah ini untuk:
Menjelaskan kondisi pusat Kota Makassar (CBD) membentuk daerah (Urban Sprawl) dalam perspektif teori perencanaan wilayah dan kota.
......................................................................................
......................................................................................

Pengen lebih detail.
Silakan download di sini:
Terbentuknya Urban Sprawl di Kota Makassar



Sabtu, 12 Mei 2012

KULIAH SEMESTER 2 PASCASARJANA UNIV. 45 MAKASSAR

Minggu ke-2 Kuliah Pascasarjana Univ. 45 



Download materi kuliah Perencanaan & Sistem Transportasi
Dosen Pembimbing 
1. Dr. Ir. Mushal Manaf, MT
2. Dr. Ir. Lambang, MT

materi kuliah dari dosen dapat download di sini

Materi Pertumuan Minggu-2


Download materi kuliah Studio Perencanaan Wilayah & Kota
Dose Pembimbing
1. Dr. Ir. Murshal Manaf, MT
2. Ir. Syafri, M.Si


Materi Pertemuan Minggu-1

Avatar The Legend Of Korra Episode

Selamat datang kembali sobat, kali ini saya akan pengen berbagi cerita dari 

Avatar The Legend Of Korra


Avatar Korra merupakan lanjutan dari Avatar The Legend Of Aang

Kalau ada yang pengen???
Download saja Sob.......!!
Avatar Korra bercerita tentang seorang Gadis dewasa yang merupakan Avatar selanjutnya yang akan menyempurnakan kemampuan pengendalian Undaranya, Korra telah Menguasai pengendalian Air, Api dan Tanah.namun dalam perjalanannya untuk menguasai element udara, ada sekelompok orang yang ingin menghancurkan kekuatannya dengan cara menghilangkan seluruh pengendaliannya secara permanen.
pengen tahu detailnya.....

download Mediafire


Pengunjung yang baik adalah yang meninggalkan sesuatu
untuk tuan rumah.
Terima kasih atas kunjungannya!